Bisnisnews.net || Ketergantungan panjang sektor pertanian terhadap pupuk dan pestisida kimia kini menjadi tantangan serius di tengah krisis iklim. Kerusakan struktur tanah dan menurunnya produktivitas kian dirasakan petani. Namun, harapan justru tumbuh dari persawahan Kampung Cipari, Desa Cisaat, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi.
Di wilayah ini, sekelompok petani memilih menempuh jalan berbeda dengan meninggalkan bahan kimia sintetis. Melalui penerapan pertanian organik, mereka membuktikan bahwa hasil panen tidak hanya tetap terjaga, tetapi justru meningkat signifikan.
Kelompok Indonesia Wahana Agrikultur Natural (IWAN) berhasil memanen padi varietas Kebuli yang dibudidayakan sepenuhnya menggunakan pupuk organik. Metode ini menghasilkan lonjakan produktivitas hingga dua kali lipat jika dibandingkan dengan pola tanam konvensional.
Perubahan tersebut digerakkan oleh Gery Dwi Samudra (24), petani muda yang konsisten mengembangkan pertanian ramah lingkungan. Menurut Gery, penggunaan pupuk organik memberikan dampak langsung pada ketahanan tanaman.
“Tanamannya jauh lebih kuat. Dari segi hasil dan kualitas juga meningkat, terutama karena padi jadi tidak mudah terserang hama,” ungkapnya, Selasa (6/1/2026).
Data panen menunjukkan perbedaan mencolok. Dari lahan seluas 1.000 meter persegi, hasil panen yang sebelumnya hanya berkisar 250–300 kilogram kini meningkat menjadi 600–700 kilogram per musim.
Selain hasil yang melonjak, waktu tanam pun menjadi lebih singkat. Gery menyebut masa tanam yang umumnya mencapai empat bulan kini bisa dipersingkat menjadi sekitar 3 bulan 10 hari.
“Walau cuaca didominasi hujan, pertumbuhan tanaman tetap stabil dan kualitas gabah terjaga,” jelasnya.
Pembina IWAN, Iwan Heryawan (63), menegaskan bahwa pertanian organik tidak semata berorientasi pada kuantitas panen. Menurutnya, tujuan utama adalah memulihkan kesuburan tanah yang telah lama menurun akibat paparan bahan kimia.
“Tanah harus dikembalikan ke kondisi idealnya. Dengan pupuk organik tersertifikasi, pH tanah bisa dinaikkan dari 5–6 ke kisaran 7–9,” kata Iwan.
Ia menambahkan, membaiknya kualitas tanah berdampak pada pulihnya ekosistem sawah. Sejumlah organisme alami seperti belut dan mikroorganisme tanah yang sebelumnya jarang ditemukan kini mulai kembali muncul.
Selain lebih ramah lingkungan, beras Kebuli hasil pertanian organik juga dinilai lebih aman untuk dikonsumsi karena bebas residu kimia. Iwan pun mengapresiasi keterlibatan generasi muda yang terjun langsung ke sektor pertanian.
“Pangan yang sehat adalah pondasi ketahanan pangan. Jika tanahnya terjaga dan petaninya berpikir maju, maka masa depan pertanian kita akan jauh lebih kuat,” tutupnya.***(RAF)
Editor : M. Nabil