Abrasi Sungai Kian Mengganas di Sukabumi Selatan, Ratusan Keluarga Kehilangan Tempat Tinggal

Date:

Bisnisnews.net || Bencana abrasi sungai kembali melanda wilayah selatan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Derasnya aliran air menggerus bantaran sungai hingga menyeret sedikitnya delapan rumah warga. Akibat kejadian tersebut, sekitar 500 kepala keluarga (KK) terdampak dan terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka.

Kerusakan terparah terjadi di sejumlah kampung di Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, di antaranya Kampung Cisarua, Babakan, Sawah Tengah, dan Cipanas. Akses menuju wilayah tersebut sempat terputus karena longsor menutup badan jalan, sehingga warga berada dalam kondisi terisolasi selama beberapa hari.

Warga mengungkapkan, meski abrasi sudah dirasakan sejak tahun lalu, intensitas kerusakan meningkat tajam dalam sebulan terakhir. Aliran sungai yang terus melebar kini berada sangat dekat dengan permukiman, mengancam rumah-rumah yang masih berdiri.

Muhammad Rian Adriansyah (23), salah satu warga terdampak, menceritakan bahwa tanah di sekitar rumah perlahan terkikis sebelum akhirnya bangunan roboh dan hanyut.

“Awalnya tanah di bawah rumah amblas, lalu bangunan mulai runtuh. Tidak lama kemudian rumah langsung terbawa arus,” ujarnya.

Ia menyebut sebagian besar rumah di kawasan tersebut kini mengalami kerusakan berat. Dapur dan bagian utama bangunan ambruk akibat pondasi yang sudah hilang.

Meski kejadian berlangsung cepat, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa kali ini. Warga berhasil menyelamatkan diri berkat saling mengingatkan dan membantu satu sama lain. Bahkan, ada warga yang hampir hanyut karena masih terlelap saat air mulai masuk ke rumah.

“Sempat ada yang masih tidur, untung cepat dibangunkan,” kata Rian.

Menurutnya, jarak sungai dengan permukiman sebelumnya mencapai ratusan meter dan dipisahkan oleh lahan pertanian. Namun, abrasi yang terus terjadi membuat alur sungai bergeser mendekati rumah warga.

Rian mengaku rumahnya kini tidak lagi layak ditempati. Dapur lebih dulu runtuh, disusul bagian bangunan lainnya. Saat ini, ia bersama keluarga mengungsi di bangunan sekolah dasar.

“Barang masih sempat diamankan, tapi rumahnya sudah tidak bisa diselamatkan,” ucapnya.

Nasib serupa dialami Siti Nurlela (18), warga Kampung Babakan Cisarua. Rumah milik keluarganya hanyut sepenuhnya saat banjir susulan melanda wilayah tersebut.

“Rumah habis, yang tersisa cuma lantai keramik. Tidak ada barang yang bisa diselamatkan,” katanya.

Saat kejadian, ibu Siti berada seorang diri di rumah. Ia harus menyelamatkan diri dengan memecahkan jendela ketika air sudah setinggi dada. Evakuasi dilakukan secara manual oleh warga pada malam hari, tanpa peralatan memadai, dengan menyeberangi sungai.

Siti menambahkan, bencana serupa sebelumnya terjadi pada 6 Maret 2025 dan melanda Kampung Cisarua serta Babakan. Peristiwa tersebut bahkan menelan satu korban jiwa. Kini, abrasi dan banjir kembali terjadi dan meluas hingga Kampung Sawah Tengah.

Akibat longsor yang menutup akses jalan, warga sempat terisolasi selama dua hari. Dalam kondisi tersebut, banyak warga hanya bisa menyelamatkan diri tanpa membawa harta benda.

“Yang terselamatkan hanya diri sendiri dan pakaian yang dipakai,” ujarnya.

Wakil Bupati Sukabumi, Andreas, menyatakan bahwa pendataan warga terdampak masih terus dilakukan. Namun, jumlah sementara diperkirakan mencapai sekitar 500 KK.

“Fokus utama saat ini memastikan seluruh pengungsi mendapatkan layanan yang layak, mulai dari logistik, kesehatan, hingga tempat beristirahat,” kata Andreas saat meninjau lokasi pengungsian.

Ia memastikan seluruh warga telah dievakuasi dan dipusatkan di satu lokasi pengungsian. Pemerintah daerah juga berupaya memenuhi kebutuhan mendesak, termasuk penyediaan listrik melalui genset.

Terkait penanganan jangka panjang, Andreas menyebut relokasi menjadi salah satu opsi yang akan dibahas setelah kondisi darurat berakhir. Untuk sementara, pemerintah masih memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak.

“Relokasi akan dibicarakan lebih lanjut setelah masa tanggap darurat. Saat ini, yang terpenting adalah keselamatan dan kebutuhan warga,” ujarnya.

Sementara itu, warga berharap pemerintah segera merealisasikan relokasi atau menyediakan hunian sementara yang aman. Mereka menilai kawasan tempat tinggal lama sudah tidak memungkinkan untuk dihuni kembali.

“Bukan hanya satu kampung, ada beberapa kampung yang terdampak. Kami hanya ingin tinggal di tempat yang aman,” pungkas Rian.***(RAF)

Editor : M. Nabil

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Kejari Sukabumi Tahan 8 Pegawai Bank BUMN, Diduga Korupsi Kredit Fiktif Rp2,6 Miliar

Bisnisnews.net ||  Kejaksaan Negeri Kabupaten Sukabumi menetapkan delapan pegawai...

Mandat Langit di Era Goro-Goro; Prabowo Subianto dan Misi Penyelamatan Nusantara

Oleh : Anto Kusumayuda (Ketum PPJNA 98) dan Aam...

Launching Manajemen Talenta, Pemkot Sukabumi Perkuat Sistem Merit dan Kinerja ASN

Bisnisnews.net || Pemerintah Kota Sukabumi mulai mengimplementasikan manajemen talenta...

Momentum HBP ke-62, Lapas Sukabumi Dorong Kemandirian Keluarga Warga Binaan Lewat Bantuan Gerobak

Bisnisnews.net || Peringatan Hari Bhakti Pemasyarakatan (HBP) ke-62 di...