Bisnisnewa.net || Kenaikan harga sayuran yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir mulai berdampak serius pada operasional Dapur SPPG Ciemas 02 di Kabupaten Sukabumi. Cuaca hujan berkepanjangan dan kelangkaan komoditas membuat harga berbagai sayuran—seperti pakcoy, timun, buncis, hingga selada—terus merangkak naik hampir setiap hari.
Rizal, PIC Dapur SPPG Ciemas 02, mengatakan kondisi geografis yang jauh dari pusat kota menjadi tantangan tambahan dalam pengadaan bahan baku. Selain harganya mahal, kualitas sayuran yang tersedia di wilayah pedesaan kerap tidak memenuhi standar, meski sebagian kebutuhan masih diupayakan melalui petani lokal.
Ia menambahkan bahan baku seperti kol, wortel, dan kentang masih harus dipenuhi melalui pedagang lokal yang mengambil stok dari pasar kota karena komoditas tersebut tidak tersedia di wilayah Ciemas.
“Kami kesulitan karena sayuran bukan hanya langka, tetapi harganya juga sangat tinggi. Sementara kami tetap harus memenuhi gizi anak melalui menu sayuran setiap harinya,” ujar Rizal, Rabu (10/12/2025).
Ia menambahkan, selain problem harga dan pasokan, minat anak terhadap olahan sayuran juga masih rendah. Tidak sedikit menu sayur yang disajikan berakhir tersisa, sehingga dapur harus mencari cara agar kebutuhan gizi tetap tercukupi tanpa membebani anggaran.
Saat ini, Dapur SPPG Ciemas 02 menyalurkan PM Basahan untuk 2.441 siswa sekolah. Sementara lebih dari 500 penerima manfaat lainnya—terdiri dari ibu hamil, ibu menyusui, dan balita—belum dapat terlayani karena keterbatasan volume PM yang harus dibagi untuk lebih dari 3.000 penerima.
Rizal menyebut menjelang Natal dan Tahun Baru, harga bahan pokok semakin melonjak tajam. Kondisi ini membuat pengelola dapur harus bekerja ekstra untuk memastikan pelayanan tetap berjalan.
“Anggaran yang kami kelola sangat terbatas. Kami harus memutar otak agar dapur tetap berjalan,” ujarnya.
Rizal berharap pemerintah daerah dan dinas terkait dapat memberikan perhatian lebih serius terhadap keluhan dapur SPPG, terutama terkait lonjakan harga bahan pokok dan keterbatasan pasokan sayuran.
“Kami berharap ada intervensi dan solusi agar pelayanan gizi kepada anak dan penerima manfaat lainnya tetap optimal,” tambahnya.
Meski dihadapkan pada banyak keterbatasan, Dapur SPPG Ciemas 02 berkomitmen tetap mendukung program pemenuhan gizi anak. Rizal mengatakan pihaknya terus mengajak masyarakat lokal untuk ikut bertani agar kebutuhan sayuran dapat terpenuhi dari desa sendiri.
“Kami mengajak masyarakat untuk bertani agar bisa menutup kebutuhan sayuran di dapur. Alhamdulillah, sejauh ini sudah banyak petani dan UMK lokal yang datang memasok ke dapur,” tuturnya.***
Editor : M. Nabil
(IFU)