Bisnisnews.net – Tren penguatan rupiah tak bertahan lama. Pada pembukaan Rabu (14/10/2026), rupiah kembali melemah terhadap dolar AS.
Mengutip Refinitiv, Garuda dibuka di Rp17.900/US$, turun 0,08% dibanding penutupan Selasa di Rp17.885/US$. Padahal, dolar AS sendiri sedang tidak perkasa.
Indeks DXY pukul 09.00 WIB tercatat melemah 0,07% ke 102,130.
Analis menilai, pergerakan rupiah pagi ini lebih dipengaruhi sentimen domestik, terutama soal kredibilitas fiskal.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara, dalam pertemuan dengan Presiden World Bank Ajay Banga di Bangkok, Selasa (13/10), menegaskan komitmen pemerintah menjaga defisit APBN di bawah 3% PDB dan rasio utang di bawah 60% PDB.
Pernyataan itu mencoba meredam kekhawatiran pasar soal pelebaran defisit. Pasalnya, disiplin fiskal menjadi kunci kepercayaan investor asing terhadap obligasi dan aset rupiah.
Sentimen eksternal datang dari China. Inflasi China September naik menjadi 0,9% YoY dari 0,8% di bulan sebelumnya, tapi masih meleset dari perkiraan 1%. Ini menjadi inflasi tertinggi sejak Juni 2026.
Meski belum merata, kenaikan harga di China memberi sinyal pemulihan permintaan. Bagi Indonesia, ini penting karena China adalah tujuan ekspor terbesar.***
Editor: M. Nabil
(Aab)