Program MBG di Desa: Ladang Rezeki UMKM dan Berkah Ekonomi Lokal

Date:

Oleh: Aam Abdul Salam/Sekjen Perhimpunan Pergerakan Jejaring Nasional Aktivis 98/PPJNA98, Ketum Komite Nasional Pergerakan Indonesia untuk Kedaulatan Kemandirian Energi dan Pangan, Presidium MD KAHMI Sukabumi, Penasehat PWI/SMSI Sukabumi

Bisnisnews.net — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar kebijakan pemenuhan nutrisi nasional dari pemerintah pusat. Lebih dari itu, program strategis ini adalah instrumen besar yang membawa misi ganda: menggerakkan roda ekonomi bawah sekaligus menegakkan keadilan sosial yang bernilai spiritual. Jika dikawal dengan optimal, setiap dapur MBG dapat menjelma menjadi episentrum kemakmuran baru di tingkat desa.

Namun, potensi raksasa ini tidak akan terwujud dengan sendirinya. Pemerintah daerah (Pemda) bersama seluruh elemen masyarakat wajib berada di garda terdepan guna memastikan program ini tidak menjadi “proyek menara gading” yang dinikmati segelintir korporasi besar saja.

Rantai Pasok Lokal: Dari Sawah dan Kandang Menuju Dapur MBG

Secara esensi ekonomi, kehadiran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG harus menjadi berkah langsung bagi ekosistem lokal. Pemda memegang peran penting sebagai jembatan yang membina, mengarahkan, dan menyiapkan para pelaku UMKM, petani, serta peternak lokal agar siap menjadi pemasok utama.

Bahan baku seperti beras, sayuran, telur, hingga daging semestinya dipasok dari tanah dan keringat warga sekitar dapur. Tugas Pemda adalah melakukan pendampingan agar UMKM lokal memiliki kapasitas, standar kualitas, dan kesiapan manajerial untuk masuk ke dalam ekosistem rantai pasok ini. Jangan sampai potensi perputaran uang yang besar di tingkat bawah ini lepas dan justru dinikmati oleh pasokan dari luar daerah.

Ikhtiar Ekonomi dan Manifestasi Spiritual

Jika ditarik ke dalam perspektif yang lebih mendalam, menyukseskan program MBG melalui pemberdayaan masyarakat lokal adalah bentuk nyata dari ibadah sosial (hablum minannas). Membuka jalan rezeki bagi pedagang kecil, memuliakan keringat petani, dan memastikan anak-anak mendapatkan makanan halal lagi baik (thayyiban) adalah manifestasi dari rasa syukur atas kekayaan bumi yang dianugerahkan Tuhan.

Ekonomi spiritual mengajarkan bahwa perputaran harta tidak boleh berhenti di satu lingkaran kecil yang eksklusif, melainkan harus mengalir rata ke tingkat yang paling membutuhkan. Menjadikan warga desa sebagai rantai pasok adalah cara terbaik untuk membumikan keadilan ekonomi yang berkah dan berkelanjutan.

Pengawasan Bersama demi Sinergi yang Bersih

Guna memastikan visi besar ini berjalan di jalur yang benar, fungsi pengawasan tidak boleh kendor. Pemda beserta seluruh lapisan masyarakat harus aktif memantau jalannya operasional dapur MBG. Pengawasan ini bukan untuk mencari-cari kesalahan, melainkan untuk menjaga agar komitmen kemitraan dengan UMKM sekitar tetap berjalan konsisten.

Sinergi yang transparan akan menutup celah monopoli dan memastikan bahwa setiap rupiah yang digelontorkan oleh pusat benar-benar mendarat di dompet para pelaku usaha kecil di desa. Program MBG adalah momentum emas. Menjaga dan mengawalnya dengan optimal adalah tanggung jawab kolektif—sebuah ikhtiar duniawi untuk kesejahteraan masyarakat, sekaligus tabungan spiritual untuk masa depan bangsa.***

Editor: M. Nabil

(Aab)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Pemkot Sukabumi Jemput Bola Benahi Data Desil Warga

Bisnisnews.net - Pemerintah Kota Sukabumi melalui Dinas Sosial (Dinsos)...

Pemkot Sukabumi Dorong Kampus Cetak Lulusan Siap Kerja dan Berwirausaha

Bisnisnews.net - Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki meminta Politeknik...

DKUKM Sukabumi Dorong Perluasan Pasar UMKM melalui Pusat Oleh-Oleh

Bisnisnews.net – Dinas Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah (DKUKM)...

UMN Sukabumi Kukuhkan 734 Mahasiswa Baru Lewat PBAK 2026, Presiden Mahasiswa:  Cetak Generasi Inovatif Berjiwa Kebangsaan

Bisnisnews.net - Universitas Madani Nusantara (UMN) Sukabumi menggelar Pengenalan...