Bisnisnews.net — Penanganan korban gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur menjadi perhatian Komisi IX DPR RI. Pemerintah didorong mempercepat evakuasi dan layanan kesehatan bagi warga yang terdampak.
Anggota Komisi IX DPR RI, Zainul Munasichin, menyampaikan keprihatinan atas bencana yang melanda sejumlah wilayah di NTT. Ia meminta seluruh upaya penanganan darurat dilakukan secepat mungkin, terutama terhadap korban yang mengalami luka dan membutuhkan perawatan.
“Kami menyampaikan belasungkawa dan juga keprihatinan yang sangat mendalam terhadap musibah bencana gempa yang ada di Nusa Tenggara Timur. Kami berdoa semoga warga masyarakat yang terkena dampak diberikan kekuatan lahir dan batin untuk terus menjalani kehidupan musibah yang ada,” ujar Zainul, usai menghadiri kegiatan tasyakuran di Kantor DPC PKB Kota Sukabumi, Minggu (16/8/2026).
Desakan tersebut disampaikan di tengah masih berlangsungnya proses penanganan pascagempa. Berdasarkan pembaruan BNPB hingga Minggu (16/8/2026) pukul 00.00 WIB, sedikitnya 53 orang meninggal dunia dan lebih dari 5.000 warga terpaksa mengungsi. Data korban luka tercatat sebanyak 135 orang.
Jumlah pengungsi terbesar berada di Kabupaten Sikka, mencapai 3.356 jiwa. Sebanyak 1.356 warga berada di GOR Samador, sementara 2.000 lainnya mengungsi secara mandiri di 10 titik.
Di Kabupaten Manggarai terdapat 2.078 pengungsi, sedangkan sekitar 500 warga lainnya mengungsi di Kabupaten Nagekeo. Pengungsian juga tercatat hingga wilayah Bima, Nusa Tenggara Barat, dan Kepulauan Selayar.
Zainul meminta pemerintah tidak hanya fokus pada proses evakuasi, tetapi memastikan korban yang berhasil diselamatkan segera mendapatkan penanganan medis sesuai tingkat keparahan lukanya.
“Yang kedua, kami meminta pemerintah untuk mengambil langkah-langkah atau upaya-upaya darurat untuk bisa sesegera mungkin menangani korban di masa-masa tanggap darurat ini,” katanya.
Menurutnya, Kementerian Kesehatan perlu bergerak cepat mengerahkan dukungan medis, terutama bagi korban yang mengalami cedera dan masih membutuhkan penanganan intensif.
“Termasuk di dalamnya adalah kesehatan. Kementerian Kesehatan kami juga mendorong untuk segera mengambil upaya-upaya cepat penanganan medis, terutama untuk korban-korban bencana yang masih bisa diselamatkan, tapi mengalami cedera maupun juga luka, yang itu membutuhkan perawatan yang lebih intensif lagi,” ujarnya.
Selain layanan kesehatan, kebutuhan dasar para pengungsi juga menjadi perhatian. Pemerintah diminta memastikan ketersediaan pangan, air bersih, listrik, obat-obatan, hingga tempat tinggal sementara selama masa tanggap darurat.
BNPB menyebut penyintas di sejumlah wilayah masih membutuhkan bantuan logistik. Di Kabupaten Manggarai, misalnya, kebutuhan mendesak meliputi tenda darurat, 30 ton beras, obat-obatan, selimut, tempat tidur darurat, tikar, air bersih, serta genset.
“Jadi evakuasi, kemudian penanganan medis, dan juga ketersediaan terhadap kebutuhan pangan. Selain soal listrik ya kan, dan lain-lain,” tutur Zainul.
Hingga Minggu sore, aktivitas kegempaan juga masih berlangsung. BMKG mencatat gempa magnitudo 5,1 terjadi di wilayah Manggarai Timur pada pukul 17.31 WIB dengan kedalaman 10 kilometer dan tidak berpotensi tsunami. Masyarakat diminta tetap mewaspadai kemungkinan gempa susulan.
Komisi IX DPR berharap percepatan penanganan dilakukan secara terpadu agar proses evakuasi, pelayanan medis, serta pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak dapat berjalan optimal selama masa tanggap darurat.***(RAF)
Editor : M. Nabil