Oleh : Aam Abdul Salam/ Sekjen PPJNA 98/Presidium MD KAHMI Sukabumi/Penasehat PWI dan SMSI Sukabumi
Bisnisnews.net – Momentum Gema Muharam Bersalawat bukan sekadar ritual tahunan. Acara ini sekaligus menjadi ruang refleksi mendalam jelang Haol Kh Ahmad Sanusi napak tilas perjuangan KH Ahmad Sanusi, ulama kharismatik asal Sukabumi yang telah dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional. Melalui untaian salawat dan pendekatan spiritual, kita diajak menggali kembali rekam jejak emas seorang tokoh yang berhasil mengawinkan spiritualitas Islam dengan semangat nasionalisme tulen.
KH Ahmad Sanusi bukan sekadar pejuang di medan laga. Lewat karya-karya kitabnya, beliau memberikan pencerahan dan spirit luar biasa dalam merebut kemerdekaan Indonesia. Beliau memperkuat akar kebangsaan, sekaligus membimbing umat Islam dalam totalitas pengabdian—sebuah ketaatan mutlak kepada Allah SWT yang diwujudkan melalui pengabdian tanpa batas untuk bangsa dan negara.
Pusaka Spiritual dari Balik Jeruji Besi
Salah satu bukti nyata ketajaman spiritual dan intelektual beliau adalah Kitab Misbahul Falah. Kitab ini bukan karya biasa. KH Ahmad Sanusi menyusunnya saat di dalam tahanan penjara Kolonial Belanda, di tengah situasi dunia yang mencekam akibat krisis Eropa kala itu.
Di balik jeruji besi yang dingin, beliau tidak menyerah pada keputusasaan. Beliau justru melahirkan “pelenyap kegelapan” (Misbahul Falah), sebuah kitab yang berisi:
a. Amalan aurod (wirid) pilihan untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.Kumpulan doa khusus memohon ampunan (maghfirah).
b. Permohonan perlindungan kepada Allah SWT atas krisis sosial, politik, maupun ekonomi.
c. Senjata Menghadapi Krisis Zaman Modern
Kitab Misbahul Falah adalah pusaka peninggalan yang sangat relevan bagi kita hari ini. Krisis global—baik moral, ekonomi, maupun polarisasi politik—sering kali membuat bangsa ini gamang. Warisan KH Ahmad Sanusi ini mengingatkan bahwa senjata utama seorang beriman dalam menghadapi krisis apa pun adalah kekuatan doa dan kepasrahan kepada Allah SWT, Pemilik Semesta Alam.
Namun, spiritualitas KH Ahmad Sanusi tidak pernah mengajarkan kepasrahan yang pasif. Spiritualitas beliau adalah spiritualitas perjuangan.Ikhtiar Lahir dan Batin
Menghadapi masa depan bangsa, rumusnya jelas: ikhtiar lahir dan batin harus berjalan beriringan. Tugas kita sebagai anak bangsa adalah berjuang sekuat tenaga, menjaga persatuan, dan mempertahankan kedaulatan NKRI dari berbagai ancaman modern.
Setelah seluruh daya dan upaya terbaik kita kerahkan di bumi, barulah seluruh hasilnya kita serahkan (tawakal) sepenuhnya ke haribaan Allah SWT.
Melalui momentum Gema Muharram Bersalawat ini, mari kita hidupkan kembali spirit Misbahul Falah. Semoga Allah SWT selalu membimbing, memberkahi, dan melindungi langkah seluruh elemen bangsa ini menuju Indonesia yang adil, makmur, dan berdaulat.***
Editor : M. Nabil
(Aab)