Terpencil dari Jaringan PLN, Petani Lansia di Sukabumi Sukses Ciptakan Listrik Mandiri

Date:

Bisnisnews.net – Jauh dari jangkauan jaringan listrik, seorang petani lanjut usia di Kabupaten Sukabumi membuktikan bahwa keterbatasan tidak selalu menjadi penghalang. Dengan memanfaatkan aliran sungai yang mengalir di sekitar rumahnya, Abah Sarnuh (80) mampu menghasilkan listrik secara mandiri melalui pembangkit sederhana berbasis kincir air.

Abah Sarnuh telah bermukim di kawasan Kontrak Pasidatar, Desa Sukamulya, Kecamatan Caringin sejak 1998. Selama tinggal di lokasi yang cukup terpencil tersebut, ia tidak pernah menikmati pasokan listrik dari PLN. Kondisi itu justru memacunya mencari cara agar keluarganya tetap bisa menikmati penerangan saat malam tiba.

Berbekal dinamo, kumparan, serta kincir yang digerakkan arus sungai, ia merancang pembangkit listrik sederhana yang hingga kini masih berfungsi. Listrik yang dihasilkan cukup untuk menerangi dua unit rumah beserta sebuah mushala tanpa biaya tagihan bulanan.

“Prinsipnya dinamo digerakkan kincir oleh air, gesekannya di dalam oleh kumparan, langsung menghasilkan tenaga listrik yang dialirkan ke rumah. Di sini mah listrik dipakai kalau malam saja dan bisa diatur besar kecil volumenya,” ujar Abah Sarnuh, Minggu (28/6/2026).

Menurutnya, sebelum memiliki pembangkit listrik sendiri, penerangan di rumah hanya mengandalkan lampu petromaks berbahan bakar minyak tanah. Situasi berubah ketika minyak tanah mulai sulit diperoleh sekitar tahun 2007.

Pada waktu yang sama, ia sebenarnya mendapat kesempatan memasang sambungan listrik PLN. Namun jarak rumah yang cukup jauh dari jaringan membuatnya harus membeli sekitar 32 rol kabel dengan biaya mencapai Rp3,2 juta. Nilai tersebut dinilai terlalu besar bagi seorang petani, terlebih kabel yang melintasi kawasan hutan berisiko rusak dan membutuhkan biaya perawatan.

Daripada mengeluarkan biaya untuk pemasangan jaringan listrik, Abah Sarnuh memilih membeli dinamo dan berbagai perlengkapan pembangkit di Kota Sukabumi. Keputusan itu menjadi titik awal lahirnya pembangkit listrik tenaga air sederhana yang kini telah digunakannya selama belasan tahun.

“Saya bukan orang bergaji. Kalau pakai diesel harus beli bensin atau solar terus. Akhirnya uang itu saya pakai beli dinamo dan peralatan lainnya. Alhamdulillah sampai sekarang tidak ada biaya listrik lagi,” katanya.

Terpencil dari Jaringan PLN, Petani Lansia di Sukabumi Sukses Ciptakan Listrik Mandiri (Foto : Azi)

Selama menggunakan pembangkit tersebut, gangguan hampir tidak pernah terjadi saat musim kemarau. Sebaliknya, tantangan justru muncul ketika musim penghujan. Debit air yang tinggi kerap merusak bendungan kecil maupun saluran air sehingga ia harus memperbaikinya sendiri agar aliran ke kincir tetap berjalan.

Perjalanan hidup Abah Sarnuh di Pasidatar juga tidak lepas dari sejarah pembukaan lahan di kawasan tersebut. Berasal dari Desa Cikahuripan, Kecamatan Kadudampit, ia ikut membuka kawasan yang dulunya masih berupa semak belukar lebat dan dikenal masyarakat sebagai habitat macan.

Pada masa pascareformasi, ratusan warga menggarap lahan terlantar sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan. Namun seiring waktu, sebagian besar area tersebut kembali masuk ke dalam penguasaan perusahaan pemegang Hak Guna Usaha (HGU), sehingga para petani harus berpindah dan mengurangi luas garapannya.

“Dulu tanah terlantar ini digarap masyarakat karena ada instruksi untuk dikelola. Sekarang sebagian sudah kembali ke perusahaan HGU. Dari ratusan penggarap, kami bergeser. Lahan yang saya kelola sekarang tinggal sekitar 45 are,” ungkapnya.

Di lahan yang tersisa, Abah Sarnuh bersama istrinya masih aktif bercocok tanam. Berbagai komoditas hortikultura seperti wortel dan pisang menjadi sumber penghidupan mereka.

Jika dahulu hasil panen harus dipikul berjalan kaki menuju perkampungan, kini para pengepul datang langsung ke kebunnya menggunakan sepeda motor yang telah dimodifikasi agar mampu melewati jalur berbatu dan menanjak.

Bagi masyarakat yang ingin melihat langsung pembangkit listrik sederhana milik Abah Sarnuh, lokasi rumahnya dapat dijangkau dengan berjalan kaki sekitar satu jam dari area parkir objek wisata Vila Kaca Pasir Datar. Medan menuju lokasi didominasi tanjakan serta jalan berbatu sehingga belum memungkinkan dilalui kendaraan roda empat maupun sepeda motor biasa.***(RAF)

Editor : M. Nabil

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Seorang Pemuda yang Berani Mengambil Sikap: Belajar dari Yandra Utama Santosa

Oleh: Dr. Ratna Istianah, S.Si., M.A.P/ Pengamat Politik dan...

Video Kawanan Lutung di Situ Gunung Viral, Ternyata Fenomena Alami di Habitat TNGGP

Bisnisnews.net - Sebuah video yang memperlihatkan puluhan lutung Jawa...

Pelajar Kini Bisa Belajar Langsung di Istana Kepresidenan Melalui Program “Istana untuk Anak Sekolah”

Bisnisnews.net - Pemerintah menghadirkan program "Istana untuk Anak Sekolah"...

Kemenhaj Buka Seleksi Terbuka 282 Jabatan Administrator dan Pengawas bagi PNS

Bisnisnews.net – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia...