Bisnisnews.net – Ketersediaan darah di Kabupaten Sukabumi masih menjadi perhatian serius. Di tengah tingginya kebutuhan transfusi darah untuk pasien di berbagai rumah sakit, jumlah pendonor aktif dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan ideal wilayah yang memiliki populasi lebih dari 2,8 juta jiwa tersebut.
Kepala Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Kabupaten Sukabumi, dr. M. Ricky Julian Adhetia, mengungkapkan bahwa berdasarkan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kebutuhan darah suatu daerah diperkirakan mencapai dua persen dari total jumlah penduduk.
Dengan jumlah penduduk Kabupaten Sukabumi yang mencapai 2.852.107 jiwa, kebutuhan darah ideal diperkirakan berada di angka lebih dari 64 ribu kantong setiap tahun.
“Secara teori menurut WHO, kebutuhan darah di daerah itu 2 persen daripada jumlah penduduknya. Jadi kalau dihitung untuk Kabupaten Sukabumi, kebutuhan darahnya sekitar 64.443 kantong darah per tahun. Sampai saat ini angka tersebut belum dapat terpenuhi,” kata Ricky, Minggu (21/6/2026).
Meski kebutuhan riil berdasarkan permintaan rumah sakit berada di bawah angka tersebut, PMI tetap menghadapi tantangan dalam menjaga ketersediaan stok darah. Setiap bulannya, kebutuhan darah di rumah sakit berkisar antara 2.000 hingga 3.000 kantong atau sekitar 30 ribu hingga 40 ribu kantong dalam setahun.
Menurut Ricky, persoalan utama bukan terletak pada fasilitas ataupun pelayanan donor darah, melainkan pada masih rendahnya partisipasi masyarakat untuk menjadi pendonor sukarela secara rutin.
Ia menilai donor darah belum menjadi kebiasaan yang dilakukan secara berkala oleh masyarakat. Sebagian besar kegiatan donor masih bergantung pada momentum tertentu, seperti peringatan hari besar atau kegiatan sosial yang bersifat insidental.
“Donor darah itu tidak boleh dipaksa dan tidak boleh diberikan imbalan. Keikhlasan dan kesadaran kemanusiaan dari pendonor adalah kunci utama. Sayangnya di Sukabumi donor darah masih banyak dilakukan saat ada kegiatan tertentu, belum menjadi kebutuhan rutin masyarakat,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat PMI harus bekerja lebih keras saat terjadi lonjakan kebutuhan darah, terutama untuk pasien yang membutuhkan transfusi dalam kondisi darurat. Tidak jarang, PMI harus mencari tambahan stok hingga ke luar daerah.
“Kondisi ini memaksa kami melakukan jemput bola, bahkan mencari stok darah ke luar wilayah seperti Jabodetabek demi memenuhi kebutuhan pasien di Sukabumi,” ungkapnya.
Selain keterbatasan jumlah pendonor, PMI juga mencatat golongan darah A dan AB menjadi kelompok darah yang paling sering mengalami kekurangan stok. Akibatnya, pencarian donor untuk kedua golongan darah tersebut kerap dilakukan secara intensif ketika ada permintaan mendesak dari rumah sakit.
Meski demikian, Ricky mengapresiasi sejumlah wilayah yang menunjukkan tingkat kesadaran donor darah cukup baik. Kecamatan Cisaat dan Cibadak, misalnya, telah memiliki komunitas donor yang aktif dan rutin mengikuti kegiatan donor darah.
Menurutnya, partisipasi seperti itu perlu ditularkan ke wilayah lain agar kebutuhan darah di Kabupaten Sukabumi dapat terpenuhi secara merata tanpa harus bergantung pada pasokan dari luar daerah.
PMI pun terus mengajak masyarakat untuk menjadikan donor darah sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Selain membantu menyelamatkan nyawa orang lain, donor darah secara berkala juga memberikan manfaat bagi kesehatan pendonor.
“Donor darah bukan hanya bermanfaat bagi pasien yang membutuhkan transfusi, tetapi juga baik untuk kesehatan pendonornya sendiri apabila dilakukan secara rutin dan sesuai ketentuan,” pungkas Ricky.***(RAF)
Editor : M. Nabil