Mengetuk Pintu Langit, Menata Bumi: 1 Muharram 1448 H, Do’a untuk Presiden Prabowo dan Seluruh Rakyat Indonesia

Date:

Oleh: M.Rafi Asyam/CEO Bisnisnews.net dan Tim Redaksi

Bisnisnews.net – Perubahan zaman tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di tengah gemuruh disrupsi dan pergeseran geopolitik global yang kian tidak menentu, bangsa Indonesia kembali dipertemukan dengan sebuah jeda kosmik yang suci: 1 Muharram 1448 H. Momentum ini bukan sekadar pergantian angka pada kalender hijriah. Ia adalah sebuah altar spiritual, ruang kontemplasi bagi sebuah bangsa untuk membaca ulang takdirnya, mengevaluasi langkahnya, dan merajut kembali optimisme masa depan.

Seruan moral dan spiritual yang digaungkan oleh tiga pilar pergerakan—Anto Kusumayuda (Ketua Umum Perhimpunan Pergerakan Jejaring Nasional Aktivis 98 – PPJNA 98), Dede Heri (Sekjen Rumah Literasi Merah Putih), dan HM Fikrie (Majelis Sholawat Cahaya Nusantara)—menjadi pemantik yang sangat relevan. Ketiganya mengajak seluruh elemen bangsa untuk melihat 1 Muharram dari kacamata yang lebih dalam: perpaduan antara seni kehidupan, kedalaman filsafat, dan puncak spiritualitas.

Secara filosofis, waktu adalah kanvas, dan manusia adalah senimannya. Kehidupan berbangsa adalah sebuah karya seni raksasa (magnum opus) yang terus digubah. Muharram adalah momen hijrah—sebuah konsep yang dalam estetika spiritual berarti seni berpindah dari kegelapan menuju cahaya, dari kepasifan menuju kreativitas, dan dari individualisme menuju solidaritas sosial.

Filsafat Islam mengajarkan bahwa evaluasi diri (muhasabah) adalah fondasi dari setiap kebangkitan. Kita tidak bisa melangkah maju tanpa keberanian untuk menengok ke belakang, menguliti kekurangan, dan memperbaikinya. Di tengah badai geopolitik global yang penuh ketidakpastian, Indonesia dituntut untuk memiliki ketahanan intrinsik. Ketahanan itu tidak hanya dibangun dengan otot ekonomi atau militer, melainkan dengan energi positif dan spiritualitas yang kokoh.

Membangun optimisme di tengah krisis adalah sebuah seni spiritual tingkat tinggi. Ia adalah keyakinan metafisik bahwa di balik setiap kesulitan, selalu ada kemudahan yang dipersiapkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Doa untuk Negeri: Menuju Keadilan dan Kemakmuran

Esensi dari seruan PPJNA 98, Rumah Literasi Merah Putih, dan Majelis Sholawat Cahaya Nusantara adalah ajakan untuk mengetuk pintu langit. Masyarakat Indonesia diajak untuk bersatu dalam frekuensi doa yang sama: memohon agar Indonesia berhasil bangkit, bergerak maju, dan mewujudkan cita-cita abadi menjadi negeri yang adil dan makmur (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur).

Doa bukan sekadar pelarian dari realitas, melainkan sebuah energi penggerak. Ketika seluruh rakyat Indonesia bersimpuh memohon keselamatan dan kemajuan untuk negerinya, tercipta sebuah kesadaran kolektif yang kuat. Kesadaran inilah yang akan menjadi modal sosial untuk menghadapi tekanan eksternal global.

Menjaga Pemimpin, Melindungi Rakyat Kecil

Dalam filsafat kepemimpinan Timur dan Islam, seorang pemimpin adalah bayang-bayang Tuhan di bumi (dhillullah fil ardh) yang bertugas menegakkan keadilan. Oleh karena itu, _momentum Muharram ini juga didedikasikan sebagai ruang spiritual untuk mendoakan Presiden Prabowo Subianto._

Rakyat dan aktivis bergerak bersama dalam doa, memohon agar Presiden Prabowo selalu dianugerahi kekuatan lahir batin, kesehatan yang prima, serta keteguhan hati dalam menjalankan amanah besar memimpin negeri ini. Di pundak beliau, jutaan harapan rakyat digantungkan.

Kesuksesan dan kelancaran program-program kerakyatan menjadi fokus utama doa dari para tokoh ini. Keberhasilan pemerintah bukan diukur dari megahnya gedung pencakar langit, melainkan dari sejauh mana kebijakan negara mampu melindungi, mengayomi, dan mengangkat harkat martabat masyarakat kecil (wong cilik). Program pro-rakyat harus menjadi manifestasi nyata dari nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.

Penutup : Muharram sebagai Energi Baru

1 Muharram 1448 H harus menjadi titik balik. Seruan dari Anto Kusumayuda, Dede Heri, dan HM Fikrie adalah pengingat bahwa narasi kebangsaan kita harus selalu melibatkan Tuhan.

Mari kita isi momentum suci ini dengan refleksi yang jernih, evaluasi yang jujur, dan optimisme yang membara. Dengan doa yang meliturgi di langit dan kerja keras yang membumi, Indonesia tidak hanya akan bertahan di tengah ombak geopolitik global, tetapi akan bangkit memimpin sebagai bangsa yang maju, adil, makmur, dan diberkahi.***

M.Rafi Asyam (Tim Redaksi/CEO Bisnisnews.net)

Editor : M. Nabil

(Aab)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Siti Ratna Maymunah: 1 Muharam 1448 H Saatnya Wartain.com & Pembaca Hijrah Bareng

Bisnisnews.net – Tahun baru Islam datang tanpa terompet. 1...

Awal Pekan Cerah, Rupiah Perkasa dan IHSG Melonjak Tiga Persen

Bisnisnews.net - Pasar keuangan Indonesia memulai perdagangan awal pekan...