Oleh : Dede Heri/Sekjen Rumah Literasi Merah Putih
Bisnisnews.net – Media sosial telah berubah fungsi. Dari sekadar tempat berbagi kabar, kini ia menjadi panggung untuk membangun citra. Dan di panggung itu, banyak orang berlomba tampil berkecukupan, bahkan berkelimpahan.
Masalahnya, apa yang terlihat di layar sering kali tidak selaras dengan kondisi dompet. Pakaian branded, kopi di kafe mahal, liburan ke luar negeri, semua bisa muncul dalam satu unggahan. Tapi di baliknya, ada cicilan menumpuk, gaji yang habis di tanggal muda, dan kebutuhan dasar yang tertunda.
Fenomena ini paling kentara di kalangan Gen Z. Tekanan untuk terlihat “sudah mapan” membuat batas antara kebutuhan dan keinginan jadi kabur. Gengsi mengalahkan logika keuangan. Yang penting feed terlihat rapi, soal saldo bisa dipikirkan nanti.
Pengamat sosial menyebut ini sebagai efek dari budaya perbandingan digital. Setiap hari, pengguna dibombardir dengan potongan hidup orang lain yang terlihat sempurna. Tanpa sadar, muncul rasa tidak cukup. Lalu lahirlah keputusan finansial yang impulsif: beli dulu, urusan bayar belakangan.
Kemudahan teknologi memperparah keadaan. Paylater, cicilan tanpa kartu kredit, dan flash sale 24 jam membuat konsumsi terasa tanpa batas. Flexing di internet pun jadi semacam mata uang sosial baru. Semakin sering pamer, semakin tinggi pengakuan yang didapat.
Padahal, realitasnya tidak seindah feed Instagram atau TikTok. Banyak yang menahan malu karena harus meminjam untuk menutup gaya hidup yang mereka pamerkan sendiri. Di sinilah rapuhnya fondasi finansial mulai terlihat.
Pakar literasi keuangan mengingatkan, kestabilan ekonomi tidak dibangun dari pencitraan. Ia dibangun dari kebiasaan sederhana: mencatat pengeluaran, memisahkan kebutuhan dan keinginan, serta berani hidup di bawah kemampuan, bukan di atasnya.
Media sosial sebenarnya netral. Yang membuat berbahaya adalah cara kita menggunakannya. Ketika ukuran sukses disempitkan menjadi tampilan luar, masyarakat mudah terjebak dalam perlombaan semu.
Hidup sederhana dengan keuangan yang sehat jauh lebih tenang daripada hidup mewah yang dibiayai utang. Sayangnya, ketenangan itu jarang mendapat likes.
Di era yang serba cepat ini, literasi keuangan dan kesadaran diri menjadi tameng utama. Tanpa keduanya, generasi muda berisiko terjebak dalam lingkaran konsumtif yang hanya mengejar validasi, bukan kesejahteraan.
Kenyataannya sederhana: orang yang benar-benar mapan biasanya tidak sibuk membuktikannya di media sosial.***
Editor : M. Nabil
(Aab)