Bisnisnews.net – Sabtu malam, 9 Mei 2026. Warkop Titik Tenang tak cuma sajikan kopi. Di meja bundar, 10 kader HMI Komisariat IMN gelar kajian panas: “Problematik Kesejahteraan Guru di Indonesia: Antara Pengabdian dan Ketidakadilan Sistem”.
Digagas Bidang P3A HMI IMN, forum ini jadi ruang gugat. Ketua Bidang P3A, Muhammad Rizqi Fauzi, buka diskusi dengan data pahit: masih banyak guru honorer digaji Rp300–500 ribu per bulan. Jauh di bawah UMR. “Pengabdian dipuji, tapi perut diabaikan. Ini ironi pendidikan kita,” tegas Rizqi.
Ihsan Muzakki, pemateri kajian, bongkar akar masalah. Bukan sekadar soal gaji kecil. Sistem yang bikin guru tak sejahtera. Status kepegawaian gantung, kontrak diperpanjang tiap tahun, tunjangan minim, jaminan hari tua nihil. “Negara minta guru cetak generasi emas, tapi nasib gurunya dibiarkan abu-abu,” kata Ihsan.
Diskusi panas. Kader HMI lempar pertanyaan tajam: kenapa sertifikasi berbelit, kenapa PPPK tak buka formasi cukup, kenapa anggaran pendidikan 20% tak sampai ke dompet guru. Suasana warkop berubah jadi ruang advokasi.
Bagi HMI IMN, guru adalah aktor utama mencerdaskan bangsa. Kalau kesejahteraannya dianak-tirikan, kualitas pendidikan taruhannya. Kajian ini bukan sekadar ngobrol. Ini pemantik tradisi intelektual sekaligus alarm gerakan.
“Kader HMI nggak boleh diam lihat guru honorer ngajar sambil ngojek. Isu ini harus dikawal sampai ada kebijakan yang adil,” tutup Rizqi.
Mulai pukul 19.00 WIB hingga larut, Warkop Titik Tenang jadi saksi: anak muda masih peduli nasib pahlawan tanpa tanda jasa.***
Editor : M. Nabil
(DH)