Bisnisnews.net || PT Kereta Api Indonesia (Persero) menyoroti tingginya pertumbuhan pengguna KRL di lintas Bogor yang kini menjadi jalur dengan mobilitas paling padat di kawasan Jabodetabek. Kondisi ini dinilai mencerminkan perubahan pola pergerakan masyarakat yang semakin meluas ke wilayah penyangga.
Berdasarkan data KAI, jumlah penumpang di lintas Bogor terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2022 tercatat 102.054.022 pengguna, kemudian naik menjadi 133.040.885 pada 2023, 145.920.264 pada 2024, dan mencapai 155.009.997 pelanggan di 2025. Sementara pada periode Januari hingga Maret 2026 saja, jumlahnya sudah menyentuh 38.203.481 pengguna.
Lonjakan tersebut menunjukkan bahwa lintas Bogor tidak hanya menjadi jalur utama komuter, tetapi juga mencerminkan pergeseran aktivitas masyarakat yang tidak lagi terpusat di Jakarta, melainkan menyebar ke berbagai wilayah sekitarnya.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyampaikan bahwa tren ini menjadi pijakan penting dalam merancang pengembangan layanan transportasi ke depan.
“Perubahan pola aktivitas masyarakat menuntut layanan transportasi yang lebih adaptif dan mampu menjangkau kebutuhan di berbagai titik,” ujarnya.
Dari sisi infrastruktur, jalur Jakarta Kota–Bogor kini telah dilengkapi sistem elektrifikasi sepanjang 54,674 kilometer dengan jalur ganda. Penguatan ini merupakan hasil kerja sama KAI dengan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, termasuk peningkatan fasilitas stasiun dan sistem operasional.
Dengan dukungan tersebut, kapasitas angkut dan keandalan layanan di lintas ini terus ditingkatkan guna mengimbangi tingginya jumlah penumpang.
Tak hanya di wilayah Bogor, tren pertumbuhan juga mulai terlihat pada jalur Bogor Paledang–Sukabumi yang dilayani KA Pangrango. Jumlah pengguna meningkat dari 786.001 pada 2023 menjadi 874.789 pada 2024, dan menembus 1.109.398 pelanggan pada 2025. Pada triwulan pertama 2026, jumlahnya telah mencapai 281.659 penumpang.
Pertumbuhan ini menandakan semakin kuatnya konektivitas antara Sukabumi dan kawasan sekitarnya dengan pusat-pusat aktivitas, seiring berkembangnya sektor hunian, pariwisata, dan ekonomi lokal.
Menurut Anne, kondisi tersebut membuka peluang besar untuk pengembangan layanan berbasis elektrifikasi hingga ke Sukabumi.
“Penguatan layanan ke depan akan diarahkan untuk menjawab kebutuhan mobilitas yang terus berkembang, termasuk melalui perluasan elektrifikasi,” katanya.
Rencana tersebut diyakini akan membawa dampak signifikan, mulai dari peningkatan frekuensi perjalanan, kapasitas yang lebih besar, hingga efisiensi waktu tempuh bagi pengguna.
Lebih dari itu, konektivitas yang semakin baik diperkirakan akan mendorong pertumbuhan ekonomi baru di berbagai wilayah, sekaligus memperluas distribusi aktivitas masyarakat agar tidak terpusat di satu kawasan saja.
Kemudahan akses transportasi juga membuka peluang bagi masyarakat untuk memilih hunian di wilayah yang lebih nyaman, sehingga dapat mengurangi kepadatan di pusat kota dan mendorong terbentuknya kawasan permukiman yang lebih tertata.
Arah ini sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat dalam mendorong pemerataan pembangunan, termasuk program perumahan rakyat yang menjadi salah satu fokus nasional.
KAI menegaskan akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah dan para pemangku kepentingan guna menghadirkan layanan transportasi yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung pertumbuhan wilayah yang lebih merata.***(RAF)
Editor : M. Nabil