Harga Emas Dunia Anjlok Tajam, Terburuk dalam 43 Tahun di Tengah Gejolak Perang

Date:

Bisnisnews.net || Harga emas dunia mengalami penurunan signifikan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Dalam sepekan terakhir, logam mulia tersebut mencatat kinerja terburuk sejak 1983, dengan penurunan mencapai 11 persen.

Jika dihitung sejak awal konflik berlangsung, harga emas bahkan telah terkoreksi lebih dari 14 persen. Penurunan ini cukup mengejutkan, mengingat emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai yang biasanya menguat saat kondisi global tidak menentu.

Fenomena ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor utama, salah satunya adalah lonjakan harga energi akibat perang yang mendorong kekhawatiran inflasi. Kondisi tersebut membuat bank sentral di berbagai negara cenderung menahan bahkan mempertimbangkan kenaikan suku bunga, alih-alih melonggarkannya.

Kebijakan ini berdampak langsung pada pergerakan emas. Berdasarkan proyeksi CME Group melalui indikator FedWatch, pasar memperkirakan tidak akan ada pemangkasan suku bunga lanjutan tahun ini. Sikap tersebut sejalan dengan keputusan Federal Reserve yang tetap mempertahankan suku bunga pada pertemuan terakhir FOMC.

Kondisi suku bunga tinggi mendorong kenaikan imbal hasil obligasi, yang pada akhirnya mengurangi daya tarik emas sebagai instrumen investasi. Selain itu, penguatan dolar AS turut menjadi faktor penekan harga emas, karena membuat logam mulia menjadi lebih mahal bagi investor global.

Penguatan dolar ini juga mencerminkan meningkatnya minat terhadap aset berbasis mata uang AS di tengah ketidakpastian global. Sejak konflik berlangsung, indeks dolar tercatat menguat hampir 2 persen, mempersempit ruang kenaikan harga emas.

Ekonom dari Fundstrat, Hardika Singh, menilai bahwa kenaikan imbal hasil menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga emas belakangan ini.

“Saya rasa dalam penurunan harga emas baru-baru ini, imbal hasil yang lebih tinggi memainkan peran besar,” kata Ekonom Fundstrat, Hardika Singh, Senin (23/3/2026).

Di sisi lain, euforia pasar terhadap emas yang sempat melonjak dalam dua tahun terakhir mulai mereda. Pada 2025, harga emas bahkan sempat mencatat kenaikan hingga 64 persen dan menembus level US$5.000 per troy ons untuk pertama kalinya. Namun kini, harga tersebut telah terkoreksi dan turun di bawah US$4.500 per troy ons.

Koreksi ini juga dipengaruhi aksi ambil untung oleh investor, yang menjual emas untuk menutup kerugian pada aset lain. Dengan berbagai tekanan tersebut, pergerakan emas saat ini menunjukkan bahwa dinamika pasar global tidak selalu sejalan dengan asumsi klasik bahwa emas akan selalu menguat di tengah krisis.***

Editor : M. Nabil

(IFU)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Lewat Diplomatic Forum, Sukabumi Perluas Jejaring Dunia dan Tampilkan Potensi Daerah

Bisnisnews.net || Dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-112, Pemerintah...

Dubes Dunia Belajar Ecoprint di Sukabumi, Siswa Jadi Duta Budaya Sekaligus Edukator Lingkungan

Bisnisnews.net || Kunjungan 16 duta besar dari sejumlah negara...

Monev Kecamatan Cikembar Tinjau BUMDes Sukamulya, Sekmat Tekankan Tertib Administrasi dan Inovasi Usaha

Bisnisnews.net || Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) Kecamatan Cikembar...

Rapat Dinas, Wabup Sukabumi Tekankan Sinergi dan Peran Aktif Daerah Ditengah Efisiensi Anggaran 

Bisnisnews.net || Wakil Bupati Sukabumi H. Andreas menghadiri Rapat...