Bisnisnews.net || Menjelang maghrib, langit di atas Jalan Rumah Sakit, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi, perlahan berubah jingga. Lalu lintas masih ramai, namun di depan halaman Kongregasi Suster Fransiskan Sukabumi, ada pemandangan yang membuat orang-orang memperlambat langkahnya.
Dua biarawati berdiri di balik meja sederhana. Di atasnya tersusun rapi kolak, bubur sumsum, gorengan, dan es buah. Senyum mereka mengembang setiap kali ada warga yang mampir membeli takjil untuk berbuka puasa.
Tak ada spanduk besar, tak pula teriakan menawarkan dagangan. Hanya sapaan lembut dan percakapan singkat yang mengalir hangat di antara penjual dan pembeli.
Obet (47), warga Baros, mengaku sudah beberapa kali membeli takjil di sana setiap Ramadan. Sore itu, ia kembali datang sebelum pulang ke rumah.
“Harganya murah, Rp5.000. Saya beli dua buat buka puasa bareng keluarga,” katanya sambil tersenyum.
Namun bagi Obet, yang ia bawa pulang bukan sekadar kolak atau gorengan. Ada rasa sejuk melihat para suster ikut meramaikan suasana Ramadan.
“Kita beda agama, tapi tetap rukun. Justru ini bukti toleransi. Enggak usah saling curiga,” ucapnya pelan.
Suster Maria Anastasia bercerita, ide berjualan takjil muncul dari obrolan sederhana dengan para karyawan yang mayoritas Muslim. Mereka ingin ikut ambil bagian dalam suasana Ramadan, meski menjalani keyakinan yang berbeda.
“Kami tanya biasanya orang berbuka dengan apa. Lalu mereka memberi ide, es buah, kolak, bubur sumsum. Kami dibantu juga oleh karyawan,” tuturnya.
Takjil yang dibuat tidak banyak—sekitar 15 porsi per hari dengan beberapa jenis menu. Jika masih tersisa, makanan itu dibagikan kembali kepada para karyawan. Bagi mereka, ini bukan soal keuntungan, melainkan kebersamaan.
Kegiatan ini sudah berjalan sekitar dua hingga tiga tahun terakhir. Meski tak selalu setiap hari, para suster berusaha hadir selama Ramadan, selama waktu dan kegiatan memungkinkan.
Menariknya, di waktu yang hampir bersamaan, umat Katolik juga tengah menjalani masa puasa menjelang Paskah. Dua tradisi berbeda, dua cara yang tak sama, namun semangatnya serupa: menahan diri, memperdalam iman, dan menumbuhkan kasih.
“Kita sama-sama berpuasa, hanya caranya berbeda. Tapi kita bisa saling mendukung,” ujar Suster Maria.
Sore itu, ketika azan maghrib hampir tiba, satu per satu takjil di meja mulai habis. Warga pamit dengan ucapan terima kasih. Para suster membalas dengan senyum yang tak putus.
Di sudut kecil Kota Sukabumi, seporsi kolak dan segelas es buah menjadi lebih dari sekadar hidangan pembuka. Ia menjelma pesan sunyi tentang persaudaraan—bahwa toleransi bisa tumbuh dari hal paling sederhana, bahkan dari sebuah meja kecil di depan biara.***(RAF)
Editor : M. Nabil