Bisnisnews.net || Suasana malam Imlek di Sukabumi selalu menghadirkan energi yang berbeda. Irama tambur mengguncang halaman vihara, kepulan dupa naik perlahan ke udara, sementara barongsai bersiap menyambut detik-detik pergantian tahun. Di antara barongsai modern yang ringan dan penuh akrobatik, Barongsai Gie Say tetap tampil dengan bentuk lamanya—lebih berat, lebih sederhana, namun sarat makna sejarah.
Bagi Persaudaraan Gie Say Sukabumi, barongsai bukan sekadar pertunjukan tahunan. Ia berakar dari tradisi perguruan silat dan menjadi bagian dari perjalanan akulturasi budaya Tionghoa dan Indonesia di kota ini.
Sesepuh Persaudaraan Gie Say Sukabumi, Wan Gus Halim, mengisahkan awal mula tradisi tersebut. “Kalau zaman dahulu itu dimulai dari perguruan silat. Mereka menggunakan barongsai untuk permainan otot. Gie Say itu akulturasi antara China dan Indonesia,” ujarnya.
Dari praktik latihan itulah karakter Gie Say terbentuk. Ia tidak sekadar meniru bentuk dari negeri asalnya, tetapi berkembang lewat sentuhan dan kreativitas masyarakat Sukabumi.
Keunikan itu tampak jelas pada desainnya. “Karena ini dibuat di Sukabumi dengan bentuk begini saya cari ke pusatnya nggak ada satu pun mirip. Kita ambil lambang dari abu dupa, pinggirnya ada gambar singa. Orang tua kita dulu,” kata Wan Gus Halim.
Detail abu dupa dan ornamen singa menjadi identitas visual yang membedakan Gie Say dari barongsai modern yang banyak digunakan dalam kompetisi.
Secara historis, Persaudaraan Gie Say disebut telah ada sebelum 1952. Pada masa awal, barongsai yang dimainkan masih berbentuk asli dari China. Perubahan desain terjadi ketika generasi terdahulu mulai merancang bentuk baru yang khas.
“Berdirinya sebelum tahun 1952 cuman pada saat itu barongsai bukan seperti ini tapi barongsai asli dari China. Setelah dibuat, kita generasi penerus tidak menemukan jejak yg pasti tahun berapa, kita ambil acuan dari pembuatan barong Gie Say. Dia mengatakan dibuat tahun 1952,” ungkapnya.
Tahun 1952 kemudian dijadikan penanda lahirnya model barongsai Gie Say yang dikenal hingga sekarang.
Salah satu ciri yang paling membedakan adalah bobotnya. Jika barongsai masa kini rata-rata berbobot 3 hingga 5 kilogram, Gie Say bisa mencapai 12 sampai 15 kilogram.
“Pada dasarnya semua hampir sama, cuma kita polos. Karena berat jadi tidak bisa selincah yang lain. Yang lain 3-5 kg, Gie Say ini 12-15 kg,” jelas Wan Gus Halim.
Namun berat tersebut bukan tanpa alasan. “Menurut cerita orang tua dulu itu sengaja dibuat untuk melatih otot. Yang mendirikan itu Tung Gi Ken,” katanya.
Nama Tung Gi Ken pun dikenang sebagai tokoh yang merintis dan membangun fondasi persaudaraan sekaligus pengembangan barongsai Gie Say di Sukabumi.
Seiring perkembangan zaman, barongsai bertransformasi menjadi cabang olahraga prestasi. “Sekarang barongsai sudah berkembang. Ada yang tradisi dan prestasi. Kalau prestasi di bawah KONI, masuk ke cabor dan telah dipertandingkan di Aceh,” ujarnya.
Perubahan juga sempat terjadi pada ukuran fisik barongsai. “Akibat dari perkembangan ya itu agak sedikit kecil, dibuat lagi tahun 1957,” tuturnya. Meski demikian, ciri khas Gie Say tetap dipertahankan.
Setiap Imlek, atraksi Gie Say menjadi bagian penting dalam rangkaian perayaan di Vihara Widhi Sakti. Pertunjukan tersebut menjadi pembuka sebelum umat melaksanakan ibadah bersama dan prosesi penyalaan lilin tepat tengah malam.
Staf pengurus vihara, Dani Tirta, menjelaskan rangkaian kegiatan yang telah disiapkan. “Untuk sesi malam ini akan dibagi menjadi 3 sesi, untuk dari jam 8 sampai jam 10 kita akan melakukan atraksi barongsai penghormatan dari Persaudaraan Gie Say terhadap Yang Mulia Kongco Han Tan Kong, lalu dilanjutkan dengan ibadah bersama, lalu jam 12 sampai jam 1 kita ada penyalaan lilin,” ujarnya.
Di tengah gemerlap barongsai modern yang mengejar ketangkasan dan prestasi, Gie Say tetap berdiri sebagai simbol ketahanan tradisi. Ia mungkin tidak melompat di atas tonggak tinggi, tetapi setiap geraknya membawa warisan, disiplin, dan identitas lokal yang terjaga lintas generasi.
Barongsai itu boleh jadi tak dikenal luas di negeri asalnya.
Namun di Sukabumi, Gie Say adalah bagian dari sejarah yang terus hidup setiap Imlek tiba.***(RAF)
Editor : M. Nabil