Bisnisnews.net || Inovasi jenis jajanan tradisional terus bermunculan dari tangan kreatif anak muda, yakni salah satunya usaha Lumpi Fun yang berlokasi di Kampung Nyalindung, Palabuhanratu, Sukabumi. UMKM ini hadir dengan konsep yang unik menghidupkan kembali jajanan tradisional lumpia dengan berbagai macam varian rasa kekinian yang fun, cukup menarik perhatian berbagai kalangan, khususnya generasi muda.
Lumpi Fun dikelola oleh Aisyah (23), seorang pelaku UMKM muda memulai usahanya sejak tahun 2024. Diketahui, usahanya ini berawal dari tugas kelompok program MSIB, lalu berkembang menjadi bisnis hingga sekarang ini. “Awalnya sih lumpia ini cuma tugas kelompok MSIB, waktu itu, eh tapi ternyata masyallah responnya cukup bagus, yaudah deh saya lanjutkan dan tekuni usaha ini sampai sekarang,” ucap Aisyah saat ditemui.
Produk Lumpi Fun juga menawarkan berbagai varian rasa lumpia roll yang disesuaikan dengan era saat ini dan selera anak muda, tapi tetap mempertahankan rasa khas lumpia. Harga yang terjangkau ramah dikantong, mulai dari Rp10.000 hingga Rp50.00, Lumpi Fun adalah pilihan cemilan dengan rasa yang diakui konsumen enak dan bikin nagih. Produk dijual dalam bentuk perkemasan, tentu sangat praktis apabila dibawa dan kirim kemana saja.
Sementara itu, dalam pemasarannya Lumpi Fun sendiri memanfaatkan media sosial seperti Facebook, Instagram, Tiktok, dan e-commerce Shopee dengan akun @lumpi.fun. Sehingga siapapun yang ingin mencicipi cukup mudah. Begitupun strategi digital ini cukup efektif, mampu menjangkau keluar kota seperti Jakarta dan Bogor, bahkan pernah keluar negeri yaitu negara Jepang. “Saya beneran gak menyangka lumpia rumahan bisa sampai dipesan ke luar negeri, itu jadi motivasi besar buat saya untuk terus konsisten,” kata Aisyah.
Kendati, sebagai UMKM yang terus berkembang, dalam hal legalitas Lumpi Fun sudah mempunyai sertifikat halal dan NIB, hal demikian merupakan nilai tambah dalam menjaga kepercayaan konsumen. Legalitas yang lengkap, Aisyah optimistis usahanya dapat berkembang lebih luas dan profesional. “Alhamdulillah usaha saya ini sudah punya legalitas, karena itu penting, agar Lumpi Fun dapat percaya penuh begitu juga berkembang lebih jauh,” ujarnya.
Dalam hal pendapatan, Lumpi Fun biasa omset perbulana sekitar Rp1.500.000 dan pada momen tertentu bisa mencapai Rp3.000.000 per bulannya. Angka tersebut cukup progres menjanjikan untuk UMKM rumahan yang dikelola secara mandiri. Ke depannya, Aisyah juga berencana ingin membuka lapak di alun-alun Palabuhanratu, namun masih terkendala peralatan yang belum memadai.
Kehadiran Lumpi Fun ini menjadi gambaran spirit UMKM di Sukabumi yang kreatif dan adaptasi pada perkembangan zaman. Usaha demikian ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis UMKM, apalagi digerakkan oleh generasi muda. Dukungan berupa pelatihan, bantuan peralatan, hingga fasilitasi pemasaran diharapkan dapat membantu UMKM seperti Lumpi Fun naik kelas.
Dengan konsep yang fun, harga pun terjangkau, dan pemasaran digital yang aktif, Lumpi Fun membuktikan bahwa makanan tradisional masih memiliki ruang untuk terus tumbuh dan berkembang. Diharapkan sinergi antara pelaku UMKM muda, masyarakat, dan pemerintah menjadi salah satu kunci agar usaha-usaha lokal di Sukabumi tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu bersaing di pasar nasional sampai internasional.***
Editor : M. Nabil
(Ujeng)