Bisnisnews.net || Harum nama Sukabumi kembali terdengar di tingkat nasional. Kali ini bukan karena keindahan alamnya, melainkan karena kiprah PT Sarandi Karya Nugraha, sebuah perusahaan alat kesehatan yang berhasil menembus pasar ekspor dengan produk buatan anak bangsa.
Kebanggaan itu disampaikan langsung oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas RI, Rahmad Pambudy, saat meninjau fasilitas produksi PT Sarandi di Desa Cibatu, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, pada Selasa (28/10/2025).
“Saya sungguh bangga. Di daerah seperti Sukabumi ternyata ada industri alat kesehatan dengan standar internasional yang produknya sudah diekspor. Ini luar biasa,” ujar Rahmad dengan nada kagum.
Menurut Rahmad, kiprah PT Sarandi merupakan contoh nyata bagaimana industri daerah bisa naik kelas menjadi pemain global. Ia menilai, perusahaan ini telah menunjukkan keseimbangan antara inovasi, kualitas, dan kepedulian lingkungan, terbukti dengan diperolehnya sertifikasi ISO Green Industry.
“Bappenas ingin memastikan pembangunan industri nasional sejalan dengan prinsip keberlanjutan. Kami butuh pelaku usaha yang tidak hanya berorientasi ekspor, tapi juga menjaga kelestarian lingkungan,” tegasnya.
Rahmad juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor antara pemerintah pusat, daerah, dan pelaku industri dalam memperkuat fondasi ekonomi nasional. Ia mengapresiasi peran Pemkab Sukabumi, TNI-Polri, dan dinas teknis yang secara konsisten membina industri lokal.
“Pembinaan seperti ini harus diteruskan. Hanya dengan kemandirian industri alat kesehatan, Indonesia bisa berdiri sejajar dengan negara maju,” tambahnya.
Sarandi, Dari Krisis Menjadi Kekuatan Bangsa
Di sisi lain, Direktur Utama PT Sarandi Karya Nugraha, Isep Gojali, mengisahkan perjalanan panjang perusahaannya yang berdiri sejak 1998 — di tengah badai krisis ekonomi. Diresmikan langsung oleh Presiden RI ke-2, Soeharto, perusahaan ini kini genap berusia 27 tahun dan menjadi kebanggaan industri nasional.
Berawal dari bengkel kecil di Sukabumi, Sarandi kini memproduksi lebih dari 100 jenis alat kesehatan, mulai dari meja operasi, tempat tidur pasien, lampu bedah, hingga perangkat elektromedis yang sepenuhnya dirakit di dalam negeri.
“Kami konsisten sejak awal: memproduksi alat kesehatan lokal berkualitas tinggi agar bangsa ini tak bergantung pada impor,” ujar Isep.
Ketika pandemi COVID-19 melanda, Sarandi menjadi salah satu produsen yang paling berperan dalam memenuhi kebutuhan alat medis dalam negeri. Kapasitas produksi bahkan sempat meningkat dua kali lipat untuk mendukung fasilitas kesehatan nasional.
Kini, perusahaan itu tengah menyiapkan ekspansi pasar ke Afrika Utara, Timur Tengah, Australia, dan Jepang. Tak hanya fokus ekspor, Sarandi juga berinovasi menghadirkan alat kesehatan bertenaga surya bagi wilayah yang belum terjangkau listrik.
“Kami ingin teknologi medis bisa hadir di mana pun, termasuk di pelosok yang sulit dijangkau listrik. Dengan tenaga surya, alat tetap berfungsi tanpa bergantung pada pasokan energi utama,” jelas Isep.
Rahmad Pambudy pun menyambut langkah itu dengan antusias. Ia mendorong agar Sarandi memperkuat kemitraan dengan universitas dan rumah sakit, guna mempercepat inovasi dan memperluas ekosistem riset alat kesehatan dalam negeri.
“Industri seperti ini adalah wujud nyata kemandirian bangsa. Dari Sukabumi, lahir inspirasi besar untuk Indonesia,” tutup Rahmad.
Simbol Kemandirian dari Tanah Sukabumi
Kunjungan kerja Menteri Bappenas tersebut menjadi momentum penting bagi dunia industri lokal. PT Sarandi Karya Nugraha kini bukan sekadar perusahaan manufaktur, melainkan simbol kebangkitan industri alat kesehatan nasional yang berakar dari daerah.
Melalui pendekatan pembangunan berkelanjutan, Bappenas berupaya memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional tetap sejalan dengan prinsip “Hijau, Inovatif, dan Berdaya Saing Global.”
Dari Sukabumi, Indonesia menunjukkan bahwa kemandirian bukan sekadar cita-cita — melainkan kenyataan yang sedang tumbuh, satu inovasi demi satu inovasi.***(RAF)
Editor : M. Nabil