Dari Tiang Bendera ke Ruang Kelas: Perjuangan Seorang Guru Honorer di Sukabumi

Date:

Bisnisnews.net || Riuh tepuk tangan membahana di Lapang Sepak Bola Desa Nyalindung, Sukabumi, Kamis pagi itu (21/8/2025). Ratusan pasang mata baru saja menyaksikan seorang pemuda memanjat tiang bendera setinggi 12 meter demi menyelamatkan jalannya upacara peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia.

Pemuda itu bernama Yusup Saepudin. Usianya baru 25 tahun, tapi keberaniannya membuatnya dielu-elukan sebagai “pahlawan bendera”. Berkat tindakannya yang spontan, Sang Merah Putih tetap berkibar gagah di langit desa, tepat seperti yang diharapkan.

Namun di balik momen heroik itu, Yusup bukanlah figur publik, apalagi pejabat. Ia hanyalah seorang guru honorer di SMK Wira Utama, sekolah tempat ia dulu menimba ilmu. Dari profesinya itu, Yusup hanya menerima honor Rp850 ribu per bulan—angka yang jauh dari cukup untuk membiayai kebutuhan keluarganya.

Lahir di Sukabumi pada 10 Juli 2000, Yusup tumbuh dengan cita-cita sederhana. Ia tak pernah membayangkan akan menjadi guru, apalagi guru honorer. Semua berawal ketika kepala sekolahnya mengajaknya mengajar pada 2023. Sebelumnya, ia hanya aktif mendampingi kegiatan Pramuka di sekolah sejak 2019.

“Awalnya saya ragu, karena semua orang tahu guru honorer itu gajinya kecil. Tapi saya pikir, ilmu yang saya punya harus bermanfaat. Kalau bisa membantu anak-anak jadi pribadi yang baik, itu lebih berharga,” tuturnya.

Kini, setiap pagi ia mengajar dengan penuh semangat, meski di balik senyumnya, ada beban berat yang ia pikul. “Kalau dihitung dengan kebutuhan sehari-hari jelas tidak cukup. Hanya untuk pampers anak saja sudah habis seperempat gaji. Belum bensin, makan, kebutuhan lain,” ungkapnya.

Untuk menutup kekurangan, Yusup kerap mencari penghasilan tambahan. Ia pernah menjadi petugas sensus, PPS desa, hingga turun ke sawah untuk bercocok tanam. Semua dikerjakan dengan ikhlas, meski hasilnya tak seberapa.

Di rumah sederhana di Kampung Haji, Desa Kertaangsana, ia tinggal bersama istrinya dan bayi mungil yang baru lahir. Dukungan keluarga menjadi alasan ia tetap tegar, meski tak jarang ia merasa tak mampu memberikan lebih. “Orang tua dan istri mendukung. Tapi kadang saya merasa belum bisa membahagiakan mereka,” ucapnya lirih.

Bagi Yusup, menjadi guru honorer bukan sekadar pekerjaan, melainkan pengabdian. Ia hanya berharap pemerintah memberi perhatian lebih kepada nasib para pendidik sepertinya. “Kami ini mendidik calon pemimpin bangsa. Besar harapan saya guru honorer bisa lebih diperhatikan, semoga ada kesempatan diangkat jadi ASN atau PPPK,” harapnya.

Meski hidup penuh keterbatasan, Yusup selalu berusaha memberi makna bagi murid-muridnya. Ia ingin dikenang bukan hanya sebagai pengajar, melainkan juga sahabat. “Guru itu harus bisa jadi teladan di depan, penyemangat di tengah, dan pendorong di belakang. Itulah yang saya pegang,” katanya.

Hari itu, Yusup memang dipuji karena keberaniannya memanjat tiang bendera. Tapi lebih dari sekadar aksi heroik, kisah hidupnya menggambarkan realitas banyak guru honorer lain di pelosok negeri: berjuang dalam keterbatasan, tetap mengajar dengan sepenuh hati, sambil berharap suatu hari kesejahteraan mereka juga bisa berkibar setinggi Sang Merah Putih.***(RAF)

Editor : M. Nabil

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Pelunasan Minim, Jemaah Haji Sukabumi 2026 yang Siap Berangkat Hanya 65 Orang

Bisnisnews.net || Kuota jemaah haji Kabupaten Sukabumi pada musim...

Pemkot Sukabumi Gelar Job Fair 2026, Perluas Peluang Kerja dan Perkuat SDM

Bisnisnews.net || Pemerintah Kota Sukabumi kembali menghadirkan bursa kerja...

Sukabumi Suka Menari 2026, Perkuat Budaya dan Dongkrak Daya Tarik Kota

Bisnisnews.net || Pemerintah Kota Sukabumi melalui Dinas Kepemudaan, Olahraga,...

Pemerintah Bangun Hunian Layak bagi Warga Pinggir Rel Pasar Senen 

Bisnisnews.net || Pemerintah terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas...