Bisnisnews.net || Tokoh Jawa Barat Eka Santosa (66), yang juga menjabat Ketua Forum Penyelamat Hutan Jawa (FPHJ), akhirnya angkat bicara terkait polemik Keramba Jaring Apung (KJA) di Pangandaran yang melibatkan Universitas Padjadjaran (Unpad) dan memantik respons keras mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti.
Menurut Eka, sejak 2016 Unpad hadir di Pangandaran dengan fokus meningkatkan kualitas SDM dan pemanfaatan sumber daya alam melalui riset. Salah satunya lewat upaya pembudidayaan benih bening lobster (BBL) yang melimpah di pantai selatan Jawa. Namun, keberadaan laboratorium dan KJA milik Unpad belakangan mendapat penolakan dan aksi protes dari sejumlah warga dan tokoh setempat.
“Bagaimana tidak? Unpad sudah melakukan penelitian sejak lama, lalu tiba-tiba keberadaan lab dan KJA-nya didemo secara massif,” ujar Eka saat bertemu wartawan di Alam Santosa, Pasir Impun, Kabupaten Bandung, Selasa (19/8/2025).
Saling Menghormati
Eka yang juga mantan pimpinan Komisi II DPR RI (2004–2009) dan Ketua DPRD Jabar (1999–2004) menekankan pentingnya semua pihak menahan diri dan saling menghormati perbedaan pendapat.
Terutama menanggapi pernyataan Susi Pudjiastuti yang sempat menyebut dosen Unpad “bodoh”.
“Dalam budaya Sunda kita harus silih asah, silih asih, dan silih asuh. Kalau ada keberatan, bukankah lebih baik menyampaikannya langsung ke Kementerian Kelautan dan Perikanan? Karena izin KJA ini keluarnya dari KKP, bukan dari Unpad,” jelas Eka yang menyebut Susi adalah sahabat lamanya.
Ia juga menilai tidak perlu melakukan panggilan video terbuka kepada Gubernur Jawa Barat yang berpotensi menimbulkan kesan berpihak secara penuh.
Tak Perlu Terjadi
Polemik ini semakin melebar setelah adanya dukungan terhadap KJA Unpad dari Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Pangandaran, Jeje Wiradinata, Bupati Pangandaran Citra Pitriyami, hingga ratusan pegiat wisata yang tergabung dalam Forum Komunikasi Para Pelaku Wisata Pangandaran (FKP2WP).
Namun, di sisi lain muncul pula pernyataan yang dinilai merendahkan akademisi Unpad, sehingga memicu protes dari Ikatan Alumni (IKA) Unpad. Wakil Ketua IKA, Budi Hermansyah, bahkan secara terbuka menyatakan keberatan atas ucapan yang dianggap tidak pantas.
“Seharusnya ini tak perlu terjadi. Terapkan saja prinsip silih asah, asih, dan asuh agar perbedaan pandangan bisa diselesaikan dengan baik,” tegas Eka.
Ada Optimisme …
Meski sempat memanas, Eka Santosa tetap optimis bahwa polemik ini akan membawa hikmah. Menurutnya, potensi besar benih bening lobster (BBL) di pantai selatan Jawa bisa dikelola secara berkelanjutan melalui riset dan kolaborasi, di antaranya berbasis pentahelix.
Yang terakhir ini, adalah adanya keseimbangan unsur Pemerintah, akademisi, badan atau pelaku usaha, masyarakat dan komunitas, serta media bersatu padu berkoordinasi, serta berkomitmen mengembangkan potensi Pangandaran diberbagai aspek.
Ia merujuk pada pernyataan Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Unpad, Yudi Nurul Ihsan, yang menilai Indonesia berpeluang meniru kesuksesan Vietnam dalam budidaya lobster.
“Melalui riset ini, kita sedang berupaya bersama warga agar BBL bisa menjadi potensi ekonomi besar bagi bangsa,” tutupnya yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Harian IKA Unpad (2012 – 2017).***
Foto : Istimewa
Editor : M. Nabil
(Aab)