Bisnisnews.net || Sinar matahari pagi belum sepenuhnya naik ketika Kuryono mulai menata bendera merah putih di lapaknya di pinggir Jalan Raya Cisaat, Kabupaten Sukabumi. Tiang-tiang bambu berdiri tegak, kain bendera berkibar pelan ditiup angin. Di balik warna merah yang gagah dan putih yang suci itu, tersimpan cerita tentang perjuangan yang kini tak lagi semeriah dulu.
“Sudah 15 tahun saya jualan bendera,” ucap Kuryono sambil merapikan lipatan kain. “Dulu jelang Agustusan ramai, sekarang paling dapat Rp150 ribu sampai Rp200 ribu sehari. Itu pun sudah bagus.”
Seperti kebanyakan pedagang bendera lainnya, Kuryono hanya mengandalkan momen kemerdekaan untuk mendapatkan pemasukan lebih. Di hari-hari biasa, ia mengaku kadang hanya membawa pulang Rp50 ribu atau bahkan kurang. Sejak penjualan daring merebak, omzetnya terus tergerus. “Sekarang orang tinggal pesan online, harganya lebih murah, modelnya banyak,” keluhnya.
Tak jauh dari sana, di kawasan Nyomplong, Kota Sukabumi, Ali (42) juga menggelar bendera dagangannya. Pedagang musiman asal Garut ini sudah terbiasa menempuh perjalanan puluhan kilometer setiap tahun demi berburu rezeki di momen 17 Agustus. Namun tahun ini, ia mengaku pembeli semakin sedikit. “Tidak seramai dulu. Kalau mau laku, harga di sini harus ikut turun,” katanya sambil menatap jalan raya yang sesekali dilalui kendaraan.
Bagi Kuryono dan Ali, bendera bukan sekadar kain berwarna merah putih. Setiap helai yang terjual berarti satu langkah lebih dekat untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Meski penjualan kian menurun dan panas matahari membakar kulit, mereka tetap berdiri di tepi jalan, berharap ada pembeli yang singgah.
Di tengah hiruk pikuk peringatan kemerdekaan, kisah mereka menjadi pengingat bahwa perjuangan tak hanya ada di medan perang, tetapi juga di pinggir jalan, di antara tiang-tiang bendera yang terus berkibar.***(RAF)
Editor : M. Nabil