Bisnisnews.net || Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sukabumi terus menggencarkan upaya edukasi dan pembinaan masyarakat dalam menjaga kerukunan umat beragama, terutama di wilayah-wilayah yang dinilai rentan terhadap konflik sosial bernuansa keagamaan.
Kepala Seksi Bimas Islam Kemenag Kabupaten Sukabumi, Deddy Wijaya, menjelaskan bahwa pihaknya tidak hanya melakukan pemetaan wilayah rawan, tetapi juga aktif menurunkan tim penyuluh agama untuk memperkuat pemahaman masyarakat tentang pentingnya toleransi dan hidup berdampingan secara damai.
“Kami tidak tinggal diam. Di wilayah yang terindikasi berpotensi konflik, seperti Cidahu, Parakansalak, dan Cibadak, kami rutin melakukan pembinaan dan edukasi. Penyuluh agama kami menjadi ujung tombak di lapangan,” ujar Deddy, Jumat (10/7/2025).
Menurutnya, kegiatan pembinaan ini merupakan bagian dari deteksi dini dan strategi pencegahan jangka panjang. Konflik keagamaan, lanjut Deddy, sering kali dipicu oleh kesalahpahaman dan kurangnya dialog antarwarga yang berbeda latar belakang keyakinan.
“Kami berupaya membangun kesadaran kolektif bahwa kerukunan adalah tanggung jawab bersama. Edukasi dilakukan bukan hanya saat konflik terjadi, tapi justru sebelum itu,” tegasnya.
Selain memperkuat penyuluhan, Kemenag juga mendorong adanya pemahaman yang lebih luas mengenai regulasi terkait kehidupan keagamaan, termasuk mengenai pendirian rumah doa yang kerap menimbulkan perbedaan persepsi di masyarakat.
“Selama ini, masih ada yang belum bisa membedakan antara rumah doa dan rumah ibadah. Kami berharap ke depan ada regulasi yang lebih rinci agar tidak menimbulkan salah tafsir dan memicu gesekan sosial,” jelasnya.
Deddy menegaskan, Kemenag tak hanya fokus pada hubungan antarumat beragama, tetapi juga membina harmoni dalam internal umat beragama (intraumat), yang menurutnya juga rawan perpecahan akibat perbedaan pandangan.
“Kerukunan bukan sekadar jargon, tapi harus jadi bagian dari perilaku keseharian. Baik antar maupun dalam umat beragama, semua harus dikelola dengan bijak,” pungkasnya.***(RAF)
Editor : M. Nabil