Bisnisnews.net || Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Sukabumi, mengadakan audiensi dengan para Organisasi Buruh yang ada di Kabupaten Sukabumi, yang dilaksanakan di Kantor Disnakertrans Kabupaten Sukabumi, Kamis 24/04/2025.
Acara tersebut merupakan rangkaian kegiatan persiapan untuk Hari Buruh (Mayday) pada tanggal 01 Mei nanti.
Bambang Widyantoro, Pelaksana Tugas (Plt) Kadisnaker Kabupaten Sukabumi menyebutkan bahwa ini merupakan arahan dari presiden yang mana nanti akan dilaksanakan di GBK.
“Semua rangkaian kegiatan kita dukung, termasuk nanti acara di GBK. Kalau anggaran, mereka juga sudah punya anggaran sendiri, kita juga support kegiatan-kegiatan yang sifatnya kondusifitas untuk pemberdayaan dan sebagainya,” tuturnya.
Ia pun menyebutkan, hampir semua organisasi buruh ikut serta dalam rangkaian Mayday seperti SPSI, dari SPN, dan lainnya.
“Dari semua yang hadir itu sama. Jadi instruksi rata-rata dari pusat untuk mengikuti kegiatan di sana. Para buruh, saya pikir mereka sudah pada dewasa, kita sama-sama dewasa, semua melakukan kegiatan yang nilai manfaatnya banyak,” tambahnya.

Sementara Ketua Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Tekstil, Sandang dan Kulit Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC.FSP. TSK- SPSI) Kabupaten Sukabumi Mohamad Popon mengatakan, kondisi ekonomi lagi tidak baik-baik saja.
“Serikat pekerja, khususnya SPTSK-SPSI, berkomitmen untuk menjaga kondisi usaha dan kondisi tenaga kerja, biar Sukabumi mempunyai daya tarik. Terus terkait dengan kondisi ekonomi yang akibat perang dagang SPTSK-SPSI sudah melakukan beberapa pemetaan masalah,” ujarnya.
Tidak hanya itu ia pun menyebutkan, adanya resiko pengurangan, dan adanya efisiensi, tetapi sampai saat ini ia mendorong kepada pengusaha untuk menunda melakukan efisiensi sumber daya manusia, tetapi duduk bersama bagaimana melakukan efisiensi yang lain.
“Efisiensi biaya dan meningkatkan produktivitas, sehingga buruh Sukabumi akan terhindar dari PHK masal yang sangat mengkhawatirkan buat kita. Karena semakin banyak PHK masal, semakin banyak pengangguran, dan ekonomi bagi rakyat, daya beli semakin murah dan masyarakatnya akan semakin terpuruk,” kata Popon.
Lebih lanjut Popon menjelaskan saat ini keadaan tidak baik-baik saja, karena dengan perang dagang, yang akan jadi korban adalah negara-negara kecil yang tidak punya daya tawar seperti Indonesia, dengan tarif 32% itu akan membebankan pada pelaku usaha termasuk nanti berpengaruh kepada produksi.
“Untuk negara-negara besar seperti China, mereka akan jadi pemenang, tapi satu hal ketika ini dibebaskan juga akan mengancam hal yang lain, Karena apa? Karena Amerika minta keseimbangan,” pungkasnya.***
Foto : Intan
Editor : M. Nabil
Reporter : IFU