Oleh : Baharzah Martin
Bisnisnews.net || Novel dengan judul “Ajengan Anjing” tentunya mudah untuk mengecoh orang ke dalam prasangka-prasangka negatif. Tapi justru karena judulnya yang terkesan provokatif itu kita ditantang untuk mempertanyakan hal ini: apakah kita punya keberanian untuk menyelam sedalam-dalamnya dalam upaya pencarian makna?
Sejauh apa yang saya baca. Terdapat beberapa babak atau fragmen-fragmen yang menyampaikan perdebatan nilai. Nilai yang sifatnya suprastruktur seperti gagasan, dogma, norma, dan moral. Pertikaian-pertikaian paradigma dalam aspek suprastruktur tadi dijalin rapi dalam deskripsi lokalitas. Benturan-benturan nilai dan dogma begitu bising dalam kesederhanaan sebuah kampung di pesisir Pantai Selatan Garut.
Perdebatan-perdebatan nilai tersebut tersebar di sana-sini di banyak adegan. Sejalan dengan perdebatan-perdebatan nilai, aspek fungsional berusaha dikedepankan sebagai sintesis dengan cara meninjau kembali bagaimana pola hubungan antar sesama makhluk dari sisi fungsi.
Dari sini kemudian kita bisa melihat bahwa ternyata secara fungsi, manusia dan makhluk lain tak saling berbenturan dan bisa hidup selaras. Itu karena hal yang sifatnya fungsional sangat erat kaitannya dengan habbit.
Habbit atau kebiasaan di kampung Mama Aleh sudah pasti berbeda dengan habbit di Siberia, misalnya. Contoh kecilnya, jika di kampung Mama Aleh anjing biasa diajak kerja ke huma untuk membantu mengusir hama dan menunggui tanaman, di Siberia, anjing difungsikan sebagai moda transportasi untuk mengantarkan obat-obatan di tengah medan salju yang berat.
Dari contoh kecil tersebut kita bisa simpulkan bahwa dalam aspek fungsi, kaidah-kaidah dogmatis atau doktrin keagamaan punya penekanan supaya sebagai sesama makhluk mestinya kita bisa hidup dalam cinta kasih.
Hal-hal tadi lantas membentuk kecenderungan berupa nativisme, kekhasan, keotentikan, atau katakanlah ciri primordial.
Oleh karena itu, maka perdebatan-perdebatan nilai sebetulnya bisa dikatakan tindakan kurang kerjaan.
Meskipun saya berkata begitu, tapi dalam konteks keilmuan, hal-hal tadi sangat mungkin menjadi dialektika yang menarik dengan catatan, perdebatannya berdasar sains yang bisa dibuktikan secara ilmiah dan tidak kontra produktif karena hanya berlandas pada keyakinan buta semata. Sebab, di zaman post-modern hari ini, perdebatan-perdebatan semacam ini perlu diuji oleh sains untuk memvalidasi keabsahannya.
Jika upaya-upaya ini dilakukan, bukan tidak mungkin hasil dari perdebatan-perdebatan tadi bisa memengaruhi perubahan sosial pada aspek yang bersifat makro-kosmos seperti keseimbangan lingkungan, alam, dan keseimbangan peradaban manusia serta hewan.
Untuk mempermudah pembacaan, penulis novel menggambarkan hal rumit tadi dalam adegan perjumpaan antara Mama Aleh dan Harak yang tidak direncanakan. Mama Aleh yang sedang makan siang di saung, dan Harak yang sedang mencari makan di sekitar saung, adalah titik temu yang menunjukkan luruhnya ego makhluk. Perjumpaan antara manusia dan anjing hutan ini menjadi pola simbiosis yang menarik.
Di huma, di tempat mata pencaharian Mama Aleh sebagai seorang ajengan-petani, ternyata sebenarnya juga tempat pencaharian si Harak. Bahwa ternyata, huma itu, dunia ini bukan cuma milik manusia tapi juga milik anjing dan makhluk lainnya.
Tak hanya manusia, tapi seekor anjing pun juga perlu ruang waktu dan tempat untuk sama-sama menjadikan dunia ini sebagai tempat mencari penghidupan.
Itulah statement kerasnya. Supaya manusia tidak hanya memikirkan syariat, tapi juga harus berusaha lebih jauh memahami hakikat.
Sebagai penutup. Dalam keserba-lokalan saya membayangkan Harak yang seekor anjing yang biasa hidup di masyarakat muslim pesisir pantai selatan Garut merantau go international ke Rusia atau ke Italia.
Di perantauannya itu ia menjumpai sebuah tatanan masyarakat anjing baru, yang membawanya ke dalam pergaulan bersama anjing-anjing borzoi, herder, atau bulldog.
Bagaimana kemudian bersama tuan barunya ia mengalami culture shock, dan tentu dengan ikut tuan barunya ia akan lebih sering mengunjungi gereja alih-alih masjid. Lantas kehidupan baru terhampar di hadapannya menanti diisi. Sebuah pencarian baru antara hakikat dan syariat. Sebuah pencarian panjang untuk mencari Tuan dan Tuhannya.***
Foto : Ilustrasi/Medcom
Editor : M. Nabil
(Sal/Biro Garut)