Ironi “Sukabumi Mubarokah” di Tengah Kelamnya Realitas Pendidikan

Date:

Oleh : Asep Sugianto/Ketua Umum Lingkar Mahasiswa Sukabumi (LMS)

Bisnisnews.net || Tagline “Sukabumi Mubarokah”, yang mengedepankan nilai spiritual dan pembangunan berkelanjutan untuk menciptakan masyarakat sejahtera dan berakhlak, kini terasa ironis dihadapkan pada realitas pahit dunia pendidikan di wilayah Kabupaten Sukabumi.

Serangkaian kasus kekerasan, mulai dari bullying yang berujung tragis pada bunuh diri seorang siswi di salah satu sekolah, tawuran pelajar, narkoba, hingga dugaan kasus asusila di lingkungan sekolah, menjadi alarm keras akan adanya ketidakselarasan antara cita-cita mulia visi daerah dengan kondisi lapangan.

Secara makna “Mubarokah” menyiratkan keberkahan, kedamaian, dan nilai-nilai luhur moral. Namun, kejadian di sekolah-sekolah Sukabumi justru mencerminkan hal sebaliknya : kekerasan, penderitaan, dan ketiadaan empati.

Ketika institusi pendidikan, yang seharusnya menjadi benteng moral dan tempat aman bagi anak-anak untuk tumbuh, justru menjadi lokasi terjadinya perilaku menyimpang, oleh karena itu, visi “Mubarokah” Bupati Sukabumi patut dipertanyakan dalam implementasinya.

Kasus-kasus ini, seperti insiden di SD swasta yang sempat ditutupi selama berbulan-bulan, menunjukkan adanya kegagalan sistem pengawasan dan penanganan masalah di tingkat akar rumput.

Kemudian, tragedi bunuh diri siswi di salahsatu sekolah, yang meninggalkan surat wasiat berisi rasa sakit hati akibat perlakuan teman-temannya adalah bukti nyata rapuhnya jiwa anak sekolah di tengah sistem pendidikan yang seolah abai terhadap aspek mental dan spiritual.

Meskipun pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan telah mengambil langkah seperti memperkuat program pencegahan bullying (PPKSP 2025), dan MUI setempat mengecam keras kejadian tersebut sambil mendorong penguatan akhlak, respons ini sering kali bersifat reaktif, bukan preventif yang kokoh dan berkelanjutan.

Realitas ini menuntut evaluasi mendalam, bukan hanya pada kurikulum, tetapi pada ekosistem pendidikan secara keseluruhan. Sinergi antara orang tua, sekolah, dan masyarakat tampaknya belum berjalan secara optimal.

Sekolah perlu lebih dari sekadar transfer ilmu pengetahuan, ia harus menjadi ruang yang benar-benar ramah anak, di mana nilai-nilai kemanusiaan, rasa hormat, dan keadilan diajarkan dan dipraktikkan setiap hari.

Pada intinya, untuk mewujudkan Sukabumi yang benar-benar “mubarokah”, penanganan serius dan sistemik terhadap kasus kekerasan di sekolah adalah keharusan.

Tagline daerah tidak akan bermakna tanpa realitas di mana setiap anak merasa aman, dihargai, dan dapat berkembang secara utuh, baik fisik, mental, maupun spiritual. Tragedi-tragedi ini adalah catatan kelam yang harus segera diatasi agar visi mulia tersebut tidak hanya menjadi slogan kosong.***

Editor : M. Nabil

(DH)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Temui Wamenpora, Pemkot Sukabumi Usulkan Revitalisasi Stadion dan Pembangunan Fasilitas Pemuda

Bisnisnews.net || Pemerintah Kota Sukabumi melakukan audiensi dengan Wakil...

Mediasi Gagal, Sengketa Lahan Dapur SPPG di Pamuruyan Berlanjut ke Jalur Hukum

Bisnisnews.net || Polemik kepemilikan lahan yang kini digunakan sebagai...

Gogosan Jalur Akibat Hujan Deras, Perjalanan KA Siliwangi Sukabumi–Cipatat Dihentikan Sementara

Bisnisnews.net || Perjalanan KA Siliwangi (345) relasi Cipatat–Sukabumi kembali...

UU PPRT Disahkan, Jutaan Pekerja Rumah Tangga Kini Wajib Dapat THR, Cuti, dan BPJS

Bisnisnews.net || Pengesahan Undang-Undang Pelindungan Pekerja Rumah Tangga (PPRT)...