Pembalakan Liar di Blok Cangkuang Gunung Salak, Warga Cidahu Tuding Ada Aktor Bermain

Date:

Bisnisnews.net || Kasus pengrusakan hutan di Blok Cangkuang, lereng Gunung Halimun Salak, Desa/Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, menuai kecaman dari warga. Tim Advokasi Warga Cidahu, Rozak Daud, menduga ada pihak-pihak tertentu yang dengan sengaja memanfaatkan status lahan eks HGU PT Perbakti untuk kepentingan pribadi.

Lahan seluas 109 hektare tersebut sejak 2018 masih dalam proses pengajuan perpanjangan HGU. Dari jumlah itu, sekitar 20 hektare rencananya akan dilepaskan untuk masyarakat. Namun, justru area yang akan didistribusikan itulah yang kini mengalami kerusakan paling parah.

“Ada kelompok yang merasa sudah berhak menguasai lahan, padahal statusnya tanah negara. Mereka berlindung dengan dalih pemohon hak, lalu melakukan perusakan. Ini bentuk keserakahan,” tegas Rozak, Kamis (18/7/2025).

Rozak menekankan, sesuai aturan agraria, HGU yang berakhir otomatis kembali ke negara. Bekas pemegang hak hanya boleh mengajukan perpanjangan, bukan serta-merta menguasai lahan. Ia meminta agar 20 hektare lahan yang dirusak tidak jatuh ke pihak rakus, melainkan dijadikan hutan rakyat atau masuk ke kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

“Kalau dibiarkan, hutan akan habis. Lebih baik lahan itu dijaga warga sebagai hutan rakyat. Apalagi blok ini adalah sumber air utama masyarakat Cidahu,” katanya.

Wakil Bupati Sukabumi, Andreas, menegaskan pemerintah daerah menolak segala bentuk perusakan lingkungan. Ia berencana melakukan pemetaan ulang status Blok Cangkuang untuk memastikan apakah masuk kawasan kehutanan atau masih berstatus HGU.

“Kerusakan alam tidak bisa dibenarkan. Jika terjadi bencana, masyarakat yang akan menanggung akibatnya. Saya akan turun langsung ke lokasi,” ujar Andreas.

Kerusakan hutan di Blok Cangkuang telah menimbulkan dampak serius. Pada awal Agustus 2025, hujan deras memicu banjir dan longsor setelah Sungai Cibojong dan Sungai Rasamala meluap. Tokoh masyarakat setempat, Rohadi (75), menyebut dalam dua tahun terakhir lebih dari 15 ribu batang pohon bernilai tinggi, termasuk Mangong, Damar, Saninten, dan Pinus, ditebang habis.

“Dari 70 hektare, hampir separuhnya gundul. Air yang dulu jernih, sekarang cepat keruh walau hujan sebentar,” ujarnya.

Menurut warga, hilangnya tutupan vegetasi dan terbukanya akses jalan baru di kawasan eks HGU membuat kawasan semakin rentan. Jika tak segera ditangani, dikhawatirkan bencana ekologis serupa akan terus berulang.***(RAF)

Editor : M. Nabil

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

SMSI Belum Nyatakan Sikap Resmi Terkait Klausul Perjanjian Dagang Indonesia-AS

Bisnisnews.net || Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) hingga kini...

Dai Kondang Nasional Diduga Lakukan Pelecehan Seksual Terhadap Enam Santri di Sukabumi

Bisnisnews.net || Enam orang santriwati di wilayah Kecamatan Cicantayan,...

Kuasa Hukum TR Soroti Kemungkinan Pelaku Lain dalam Kasus Tewasnya NS di Sukabumi

Bisnisnews.net || Penetapan TR sebagai tersangka dalam perkara dugaan...

Polisi Lakukan Penyelidikan Atas Laporan Ibu Kandung NS terhadap Mantan Suami

Bisnisnews.net || Penanganan perkara meninggalnya NS (12), siswa asal...