Bisnisnews.net || Senyum petani mengembang di hamparan ladang Desa Sasagaran, Kecamatan Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi. Kamis (17/7/2025) menjadi hari istimewa bagi mereka: panen raya jagung manis membuahkan hasil di luar dugaan. Dari lahan seluas 20 are, sebanyak 3 ton jagung berhasil dipetik dalam waktu tak lebih dari dua bulan.
Ini bukan panen biasa. Untuk pertama kalinya, para petani di Kampung Salajambu, RT 04 RW 01, menggunakan pupuk organik Bios 44. Hasilnya? Waktu tanam lebih singkat, kualitas jagung meningkat, dan hasil panen jauh lebih banyak dari sebelumnya.
“Biasanya panen itu tiga bulan lebih, sekarang cuma dua bulan sudah bisa dipanen, dulu hasilnya paling 2,1 ton. Sekarang pakai Bios bisa sampai 3 ton. Ukurannya lebih besar, isinya juga padat sampai ke pucuk,” ujar salah satu petani, Jajang (42) kepada bisnewsnet.
Peningkatan kualitas ini tidak hanya berdampak pada volume produksi, tetapi juga nilai jual jagung di pasaran. Menurut Jajang, jagung yang lebih manis dan besar harganya lebih tinggi, membuka peluang distribusi ke luar daerah.
Yang menarik, penggunaan Bios 44 juga mengurangi ketergantungan petani pada pestisida dan bahan kimia. “Kami enggak perlu pakai obat hama lagi. Tanamannya lebih sehat, biaya juga jadi lebih hemat,” jelas Jajang.
Mia Kunto, seorang akademisi sekaligus praktisi pertanian yang hadir dalam kegiatan panen, menyebut bahwa Bios 44 dapat menjadi solusi efisien bagi produktivitas pertanian lokal. “Jagung biasanya dipanen setelah 3–4 bulan, tapi ini hanya 1,5 bulan. Hasilnya luar biasa. Bulirnya besar dan utuh,” ujar Mia.
Ia juga menyoroti pentingnya pengelolaan pascapanen dan distribusi hasil pertanian secara kolektif. Dengan hadirnya Koperasi Merah Putih di Desa Sasagaran, Mia berharap petani tak hanya sukses menanam, tetapi juga berdaya dalam menjual hasilnya.
“Lewat koperasi, jagung dan hasil tani lainnya bisa dikonsolidasikan. Ini bisa membuka akses pasar yang lebih luas dan menjadikan desa ini sebagai contoh swasembada pangan berbasis komunitas,” tandasnya.
Panen kali ini tak sekadar soal jagung. Ia menjadi simbol harapan baru: bahwa dengan teknologi tepat dan semangat kolaborasi, desa bisa bangkit, petani bisa untung, dan hasil bumi bisa menjangkau lebih jauh.***(RAF)
Editor : M. Nabil