Bisnisnews.net – Pertumbuhan aktivitas ekonomi di Jawa Barat tercermin dari meningkatnya konsumsi energi listrik sepanjang Januari hingga September 2026. PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Barat mencatat penjualan tenaga listrik mencapai 50,04 terawatt hour (TWh), tumbuh 6,28 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 47,08 TWh.
Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh meningkatnya kebutuhan listrik pada sektor bisnis dan industri yang menjadi penggerak penting perekonomian daerah.
Berdasarkan data PLN UID Jabar, sektor bisnis mencatat pertumbuhan penjualan listrik tertinggi sebesar 9,6 persen, dari 7,62 TWh menjadi 8,35 TWh. Sementara itu, sektor industri tumbuh 7,17 persen dari 19,22 TWh menjadi 20,60 TWh, disusul sektor rumah tangga yang meningkat 4,06 persen dari 17,59 TWh menjadi 18,31 TWh.
Secara keseluruhan, ketiga sektor tersebut berkontribusi sebesar 94,44 persen terhadap total penjualan tenaga listrik di Jawa Barat. Adapun sisanya sebesar 5,56 persen berasal dari sektor sosial, pemerintahan, layanan khusus, dan traksi.
General Manager PLN UID Jawa Barat, Muhammad Joharifin, mengatakan peningkatan konsumsi listrik menjadi sinyal positif perkembangan aktivitas ekonomi.
“Pertumbuhan konsumsi listrik ini menjadi salah satu cerminan bergeraknya aktivitas ekonomi di Jawa Barat. Bagi PLN, hal ini bukan sekadar peningkatan penjualan energi, tetapi juga menunjukkan semakin besarnya kebutuhan dunia usaha dan masyarakat terhadap pasokan listrik yang andal,” ujar Joharifin.
Pertumbuhan tersebut terlihat pada meningkatnya konsumsi listrik sejumlah pelanggan bisnis berskala besar. Hingga September 2026, konsumsi listrik pada kelompok pelanggan ini mencapai 3.651 gigawatt hour (GWh), meningkat 253 GWh atau 7,46 persen.
Sementara itu, sektor industri juga menunjukkan pertumbuhan yang solid. Konsumsi listrik pada sejumlah kelompok pelanggan industri mencapai 19.388 GWh, meningkat 1.285 GWh atau 7,09 persen secara tahunan. Industri kertas menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar dengan tambahan konsumsi 249,62 GWh, diikuti industri besi, baja, dan logam sebesar 237,82 GWh, serta industri makanan dan minuman sebesar 187,97 GWh.
Tren positif ini juga tercermin dari pertumbuhan penjualan listrik di berbagai wilayah Jawa Barat. Hingga September 2026, wilayah Karawang mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 10,30 persen, disusul Indramayu sebesar 9,22 persen dan Sumedang sebesar 8,59 persen.
Merespons peningkatan kebutuhan tersebut, PLN terus memperkuat kesiapan sistem kelistrikan melalui pemeliharaan jaringan secara intensif, peningkatan kapasitas infrastruktur, serta optimalisasi pengelolaan sistem distribusi.
“Setiap peningkatan kebutuhan listrik adalah tanggung jawab yang harus kami jawab dengan kesiapan dan pelayanan terbaik. Kami ingin memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi Jawa Barat selalu didukung oleh energi listrik yang andal dan berkelanjutan,” tutup Joharifin.***
Editor: M. Nabil
(Aab)