Bisnisnews.net – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjelma menjadi pasar raksasa bagi usaha rakyat. Data Badan Gizi Nasional (BGN) per 9 Oktober 2026 mencatat 63.608 pemasok di 37 provinsi terlibat dalam rantai pasok MBG, dan dominasi ada di UMKM.
Sebanyak 52.689 pemasok atau 82,83 persen berasal dari UMKM. Selebihnya koperasi 9.388 pemasok, BUMDes 1.105 pemasok, dan Koperasi Desa Merah Putih 426 pemasok.
Kepala BGN Sudaryono mengatakan, orientasi MBG sejak awal tidak hanya mengejar target gizi, tapi juga perputaran ekonomi di daerah.
“Program ini berdampak kepada ekonomi lokal dengan memberdayakan UMKM, petani, dan peternak,” ujar Sudaryono, Minggu (25/10).
Skema pasoknya melibatkan ekosistem lengkap. Petani dan peternak sebagai produsen, koperasi sebagai penghimpun, UMKM dan BUMDes sebagai penyedia dan distributor, hingga bermuara di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai dapur layanan.
Sudaryono menegaskan bahan pangan lokal tetap prioritas utama, meski ada usulan Bulog untuk masuk memasok beras premium.
“Kami ingin petani lokal, pedagang lokal, dan UMKM ikut merasakan manfaat dari perputaran ekonomi yang dihasilkan program ini,” tegasnya. Usulan Bulog dinilai positif sebagai cadangan saat pasokan daerah belum cukup.
Di Jawa Timur, model ini sudah diterapkan. SPPG wajib membeli telur peternak lokal tiga kali seminggu di harga sekitar Rp24.000/kg. Potensi serapannya 8-10 persen dari total produksi telur Jatim.
Skala MBG juga terlihat dari tenaga yang terlibat. Hingga September 2026 ada 1.027.998 pegawai dan relawan aktif, terdiri dari 86.120 pegawai SPPG dan 941.878 relawan.
Jangkauannya mencapai 26.385 SPPG dengan 57,4 juta penerima manfaat per 9 Oktober 2026. Realisasi anggaran hingga September 2026 sebesar Rp149,79 triliun.
BGN menyebut ke depan kuncinya ada pada kemitraan berkelanjutan, agar omzet UMKM naik, pendapatan petani terjaga, dan kontrak pengadaan merata di daerah.***
Editor: M. Nabil
(Aab)