Bisnisnews.net – Pelemahan rupiah yang sudah menyentuh Rp 18.050 per dolar AS membuat ruang Bank Indonesia untuk menahan suku bunga semakin sempit.
Lembaga riset BMI yang merupakan bagian dari Fitch Solutions dalam laporan Macro Insight 22 Oktober 2026 memperkirakan BI akan kembali ke jalur pengetatan. BI Rate diproyeksi naik menjadi 6% pada akhir 2026 dan menyentuh 6,5% pada 2027.
Padahal, pada Rapat Dewan Gubernur 21 Oktober 2026, BI masih menahan BI Rate di 5,75%. BI hanya menaikkan deposit facility 25 bps menjadi 5% dan memperluas insentif hedging untuk menahan gejolak valas.
BMI menilai strategi intervensi tidak bisa terus-menerus diandalkan. Cadangan devisa Indonesia untuk membiayai impor turun dari 7,2 bulan di awal 2025 menjadi hanya 5,3 bulan pada September 2026. Sementara rupiah sudah melemah lebih dari 8% sejak awal tahun.
Dari luar negeri, tekanan semakin besar. The Fed diproyeksi BMI justru akan menaikkan suku bunga menjadi 4,5% pada akhir 2026. Konflik AS-Iran dan ancaman Super El Nino juga berpotensi mendorong harga energi dan pangan dunia.
Dampaknya ke inflasi domestik. BMI memproyeksikan inflasi Indonesia 3,4% pada 2026 dan naik menjadi 3,5% pada 2027.
Risiko lain datang dari pasar modal. Ketidakpastian status Indonesia di indeks MSCI membayangi. Jika MSCI menurunkan Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market, arus keluar dana asing berpotensi besar dan kembali menekan rupiah.***
Editor: M. Nabil
(Aab)