Bisnisnews.net – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun bebas pada perdagangan hari ini, Jumat (16/10/2026). Bursa Efek Indonesia (BEI) bahkan menghentikan sementara perdagangan atau trading halt.
Pada pembukaan pukul 09.00 WIB, IHSG anjlok 8,01% atau 469,86 poin ke level 5.393,92 dari penutupan kemarin di 5.863,78. Penurunan itu memicu trading halt selama 30 menit dari pukul 08.58 hingga 09.28 WIB.
Setelah perdagangan dibuka kembali, tekanan jual makin dalam. Pada sesi I, IHSG tercatat merosot hingga 10,76% atau 630,78 poin ke level 5.233,00. Bahkan sempat menyentuh level terendah harian di 5.193,22 – menjadi posisi terendah sejak 2020.
Data perdagangan mencatat mayoritas saham memerah. Hanya 15 saham menguat, 809 saham melemah. Sektor infrastruktur anjlok 14%, material dasar 13%, dan energi 12%. Saham bank besar seperti BBCA anjlok 14,40%, BBRI 11,29%, BMRI 8,29%, dan BBNI 10,56% ikut membebani indeks.
Pemicu: Ancaman MSCI
Penyebab utama anjloknya pasar adalah pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Pada 15 Oktober 2026, MSCI membuka konsultasi untuk mengubah klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market (negara berkembang) menjadi Standalone Market (pasar mandiri/terasing).
MSCI menyoroti masalah transparansi kepemilikan saham, konsentrasi kepemilikan, dugaan aktivitas perdagangan terkoordinasi, serta belum adanya perbaikan signifikan dalam tata kelola dan fungsi pasar.
Konsultasi akan berlangsung hingga 30 April 2027 dan keputusan final diumumkan sebelum 30 Juni 2027. Jika benar-benar diturunkan, dana global yang mengikuti indeks MSCI berpotensi keluar besar-besaran dari Indonesia.
Tekanan juga diperparah sentimen eksternal, inflasi produsen AS yang naik 1,3% dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Investor asing tercatat sudah melepas saham Indonesia senilai US$212,5 juta sepanjang Oktober dan total US$4,87 miliar sejak awal tahun 2026.
Kondisi tersebut membuat nilai tukar Rupiah juga ikut tertekan ke level Rp18.063 per dolar AS.***
Editor: M. Nabil
(Aab)