Bisnisnews.net — Sebuah bangunan di Jalan Bhayangkara, Kecamatan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi, kembali membuka lembaran sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Rumah yang pernah menjadi tempat pengasingan dua tokoh bangsa, Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir, kini resmi ditetapkan sebagai museum.
Penetapan tersebut dilakukan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon dalam peresmian Museum Rumah Pengasingan Bung Hatta dan Sutan Sjahrir, Sabtu (12/9/2026).
Tak sekadar mempertahankan bangunan lama, museum tersebut kini menghadirkan berbagai koleksi yang menggambarkan perjalanan kedua tokoh dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Sejumlah benda bersejarah, arsip surat, literatur, hingga foto dan dokumentasi pribadi Bung Hatta serta Sutan Sjahrir dipamerkan kepada masyarakat.
Bangunan tersebut sebelumnya merupakan rumah dinas sekaligus mes yang digunakan kepolisian. Proses pemugaran dilakukan untuk mengembalikan tampilan dan karakter bangunan mendekati kondisi aslinya.
Pemugaran melibatkan Kementerian Kebudayaan, Setukpa Lemdiklat Polri, Pemerintah Kota Sukabumi, serta keluarga para tokoh nasional.
47 Hari yang Menjadi Bagian Penting Sejarah
Fadli Zon menyebut rumah tersebut memiliki posisi penting dalam rangkaian sejarah perjuangan Indonesia.
Bung Hatta dan Sutan Sjahrir pernah menjalani pengasingan di tempat itu selama 47 hari setelah sebelumnya berada di Boven Digoel dan Banda Neira.
“Rumah ini adalah rumah yang bersejarah karena merupakan pengasingan dari Bung Hatta dan Bung Sjahrir sejak tahun 1942, tepatnya tanggal 3 Februari setelah diasingkan dari Banda Neira.
Jadi dari Banda Neira dibawa ke Sukabumi pada awal tahun 1942 dan ditempatkan di sini 47 hari, yaitu mulai dari tanggal 3 Februari 1942,” ujar Fadli Zon kepada Koran Gala, Sabtu (12/9/2026).
Masa keberadaan kedua tokoh tersebut di Sukabumi berlangsung pada periode yang sangat menentukan. Tak lama setelah itu, Jepang mengambil alih kekuasaan dari pemerintah kolonial Belanda.
Penyerahan kekuasaan tersebut berlangsung di Kalijati, Subang, pada 7 Maret 1942.
“Sebulan setelah di Sukabumi, Jepang secara resmi masuk ya, dengan penyerahan Belanda di Kalijati tanggal 7 Maret 1942,” ungkapnya.
Selain Hatta dan Sjahrir, Sukabumi pada periode tersebut juga menjadi lokasi pengasingan tokoh pergerakan lainnya. Dr. Cipto Mangunkusumo dan Iwa Kusumasumantri diketahui menjalani pengasingan di kawasan Selabintana.
Bagi Fadli, keberadaan Museum Rumah Pengasingan Hatta-Sjahrir menjadi bagian dari upaya melengkapi potongan-potongan sejarah yang selama ini tersebar di berbagai daerah.
Ia juga mengapresiasi keluarga Hatta dan Sjahrir yang memberikan dukungan dengan meminjamkan sejumlah koleksi pribadi untuk dipamerkan.
“Jadi ini adalah satu aset sejarah, aset budaya yang penting sehingga bisa melengkapi puzzle sejarah kita dari rumah-rumah pengasingan, dari langkah-langkah perjuangan, dan juga terutama bisa memperlihatkan kepada generasi muda bagaimana perjuangan itu luar biasa dilakukan oleh para founding fathers kita,” paparnya.
Dari Tempat Pengasingan Menjadi Titik Konsolidasi
Di balik statusnya sebagai tempat pengasingan, rumah tersebut ternyata juga menjadi ruang bagi Hatta dan Sjahrir untuk kembali membangun jaringan perjuangan.
Siti Rabyah Parvati Sjahrir atau Upik Sjahrir, putri Sutan Sjahrir, mengatakan masa di Sukabumi menjadi salah satu fase penting setelah ayahnya dan Bung Hatta menjalani pengasingan panjang.
Menurutnya, keduanya mulai kembali berhubungan dengan sejumlah tokoh pergerakan meskipun berada dalam pengawasan.
“Ini satu titik awal perjuangan kembali dari pembuangan Ayah dan Bung Hatta dari Boven Digul ke Banda Neira. Begitu kembali ke Sukabumi, mereka mulai menjalin kembali hubungan dengan pejuang-pejuang lain. Meskipun di sini ditahan, tapi mereka boleh menerima tamu. Jadi Amir Sjarifuddin datang, Pak Soeditno adik dari Soetomo semua datang dan mereka melakukan rapat-rapat, konsolidasi kembali. Dan anehnya, Ayah (Sutan Sjahrir) itu bisa ke Bandung, dia bisa keliling mulai melakukan perjalanan keliling itu setelah di Sukabumi,” ujar Upik.
Dari Sukabumi, strategi perjuangan keduanya juga mulai mengambil jalur berbeda dalam menghadapi pendudukan Jepang.
Bung Hatta bergerak melalui jalur terbuka dengan berkomunikasi bersama pemerintah pendudukan Jepang. Sementara Sutan Sjahrir memilih membangun pergerakan melalui jaringan bawah tanah.
“Keputusan untuk mengatur strategi di mana Ayah (Sutan Sjahrir) akan bergerak di bawah tanah, sedangkan Bung Hatta harus di atas, harus bekerja sama dengan Jepang—bukan dengan senang hati, tapi untuk bisa mendukung perjuangan-perjuangan pemuda yang bergerak di bawah tanah,” paparnya.
Diproyeksikan Menjadi Cagar Budaya Nasional
Fadli Zon mengatakan proses penyelamatan bangunan tersebut telah dilakukan sejak dirinya melakukan peninjauan pada Januari 2025.
Saat itu, kondisi bangunan masih membutuhkan penanganan. Pemerintah kemudian melakukan intervensi melalui pemugaran dengan melibatkan tenaga kurator dari Direktorat Sejarah dan Permuseuman.
“Tadinya kan tempat ini merupakan Rumah dinas juga mess yang dipakai oleh kepolisian. Kemudian ketika itu sudah ada juga kerusakan-kerusakan, jadi waktu saya datang, warnanya juga tidak seperti ini. Kita kembalikan coba ke aslinya dengan tim yang ada kurator di bawah Direktorat Sejarah dan Permuseuman, kemudian kita intervensi dengan melakukan ini (pemugaran). Dan tentu saja atas persetujuan dari pihak kepolisian,” ujar Fadli.
Revitalisasi juga dibarengi dengan penerapan teknologi digital agar museum dapat memberikan pengalaman yang lebih menarik bagi pengunjung sekaligus dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah atau heritage di Kota Sukabumi.
Tak berhenti pada revitalisasi, Kementerian Kebudayaan kini mendorong peningkatan status bangunan tersebut menjadi Cagar Budaya Nasional.
“Segera kita daftarkan, kita registrasi, dan mudah-mudahan dalam waktu dekat rumah Hatta-Sjahrir ini bisa menjadi Cagar Budaya Nasional. Sekarang baru Cagar Budaya di tingkat kota. Mudah-mudahan tahun ini bisa jadi Cagar Budaya Nasional. Sehingga ini bisa terawat, bisa terjamin semuanya,” jelas Fadli.
Sementara itu, Meuttia Hatta, putri Bung Hatta, menyampaikan apresiasi atas langkah pemerintah dalam menjaga peninggalan sejarah bangsa.
“Terima kasih banyak Bapak Menteri Kebudayaan yang sangat paham mengenai bagaimana aset-aset sejarah harus dilindungi ya, dan juga ada manfaatnya dan juga di sini terlihat semangat dari nilai-nilai dari tokoh-tokoh yang ada di sini,” ujar Meuttia.
Ia berharap kehadiran museum tersebut tidak hanya menjadi tempat menyimpan benda-benda bersejarah, tetapi juga menjadi sarana bagi generasi muda untuk memahami perjalanan panjang bangsa menuju kemerdekaan.
“Nah, jadi di samping itu juga kita mengajak kembali anak-anak muda terutama untuk mengenal satu bagian, satu sisi sejarah yang dulu tidak diperhatikan tapi ini sangat penting dalam alur perjalanan dari perjuangan bangsa kita untuk merdeka. Ini sangat penting sekali,” pungkasnya.***(RAF)
Editor: M. Nabil