Bisnisnews.net – Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Sukabumi terus mengintensifkan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya diversifikasi pangan sebagai langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pangan daerah.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Sukabumi, dr. Gatot Sugiharto, Sp.B., MARS, mengatakan, ketahanan pangan tidak hanya berbicara mengenai ketersediaan bahan pangan, tetapi juga bagaimana masyarakat memiliki pola konsumsi yang beragam dan memenuhi kebutuhan gizi.
Menurutnya, ketergantungan masyarakat terhadap beras sebagai sumber karbohidrat utama perlu dikurangi secara bertahap dengan mendorong pemanfaatan berbagai komoditas pangan lokal yang tersedia di Kabupaten Sukabumi.
Hal tersebut disampaikan melalui edukasi “Lentera Pangan – Literasi Ketahanan dan Edukasi Pangan” dengan mengangkat tema “Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Pangan”.
“Diversifikasi pangan penting untuk membangun kesadaran masyarakat agar tidak hanya bergantung pada beras. Kabupaten Sukabumi memiliki banyak potensi pangan lokal yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat,” ujar dr. Gatot Sugiharto.
Ia menyebutkan, konsumsi beras saat ini masih mendominasi kebutuhan pangan masyarakat, mencapai sekitar 85–90 persen. Sementara itu, konsumsi pangan lokal nonberas sebagai sumber karbohidrat baru berada di kisaran 10–15 persen.
Padahal, berbagai komoditas lokal seperti jagung, singkong, ubi jalar, talas, sagu, sukun, kentang, pisang, hingga sorgum memiliki potensi untuk dikembangkan dan menjadi bagian dari pola konsumsi masyarakat sehari-hari.
“Potensi pangan lokal kita sangat beragam. Ini yang harus terus dikenalkan dan dikembangkan sehingga masyarakat memiliki lebih banyak pilihan sumber pangan,” katanya.
Menurut dr. Gatot, diversifikasi pangan memiliki manfaat yang lebih luas. Selain mengurangi ketergantungan terhadap satu komoditas, upaya tersebut juga dapat meningkatkan pemanfaatan sumber daya pangan lokal sekaligus mendukung terbentuknya pola konsumsi yang lebih sehat dan beragam.
Dalam edukasi tersebut, masyarakat juga diperkenalkan dengan prinsip B2SA, yakni Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman. Prinsip ini menjadi salah satu landasan dalam membangun pola konsumsi pangan yang berkualitas.
Masyarakat didorong untuk mengonsumsi makanan yang beragam, memenuhi kebutuhan gizi tubuh, memperhatikan keseimbangan jumlah dan jenis makanan, serta memastikan pangan yang dikonsumsi bersih dan aman.
Dari aspek ketahanan pangan, keberagaman konsumsi masyarakat juga menjadi bagian penting dalam mengukur kualitas pola konsumsi. Kabupaten Sukabumi menggunakan Skor Pola Pangan Harapan (PPH) sebagai salah satu indikator untuk melihat tingkat keragaman pangan masyarakat.
Namun demikian, diversifikasi pangan masih menghadapi sejumlah tantangan. Persoalan tersebut tidak hanya menyangkut ketersediaan komoditas pangan lokal, tetapi juga berkaitan dengan kebiasaan, budaya konsumsi, serta kemudahan masyarakat dalam mendapatkan beras.
Salah satu kebiasaan yang masih melekat di tengah masyarakat adalah anggapan “belum makan kalau belum nasi”. Paradigma tersebut dinilai perlu diubah secara perlahan melalui edukasi yang berkelanjutan.
Karena itu, DKP Kabupaten Sukabumi terus mendorong peningkatan literasi pangan agar masyarakat semakin memahami bahwa sumber karbohidrat tidak hanya berasal dari beras.
Dengan mengoptimalkan pangan lokal dan membangun pola konsumsi B2SA, diversifikasi pangan diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya mewujudkan ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kualitas konsumsi pangan masyarakat di Kabupaten Sukabumi.***
Editor : M. Nabil
(IFU)