Oleh: Siti Ratna Maymunah/ CEO Wartain.com dan Bendahara SMSI Sukabumi Raya
Bisnisnews.net – 1 Juni 2026 kembali kita sebut “Hari Lahir Pancasila”. Tapi lahirnya Pancasila baru lengkap ketika nilai-nilainya benar-benar hidup di rumah, kantor, sekolah, dan ruang publik. Dan salah satu ruang paling menantang hari ini adalah ruang kesetaraan gender.
Lihat Sila ke-2: “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”. Adil berarti tidak ada manusia yang dinilai lebih rendah karena jenis kelaminnya. Beradab berarti tidak ada kekerasan, pelecehan, atau diskriminasi yang dibenarkan atas nama budaya. Kalau masih ada, berarti PR kita belum selesai.
Lalu Sila ke-5: “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Kata kuncinya “seluruh”. Bukan “seluruh laki-laki”. Bukan “seluruh yang punya akses”. Ketika perempuan di Sukabumi Selatan masih jalan jauh demi air bersih, ketika pekerja perempuan gajinya dipotong karena cuti melahirkan, keadilan sosial itu baru setengah jalan.
Pancasila tidak pernah minta perempuan dan laki-laki menjadi sama persis. Pancasila minta keduanya diperlakukan setara sebagai manusia. Punya hak yang sama untuk sekolah tinggi, punya kesempatan yang sama melamar kerja, punya perlindungan yang sama saat di ruang publik. Itu inti penyetaraan gender.
Di meja redaksi Wartain.com kami belajar banyak. Liputan tentang UMKM akan pincang kalau tidak mewawancarai ibu-ibu pengrajin gula aren. Berita pendidikan akan hampa kalau tidak mendengar guru honorer perempuan. Media yang adil gender, beritanya jadi lebih utuh. Itu contoh kecil Pancasila bekerja lewat jurnalisme.
Arah kebijakan pemerintah Prabowo yang berpihak pada rakyat harus diukur dari sini juga. Keadilan sosial bukan hanya soal subsidi dan bantuan. Tapi soal sistem: apakah UU TPKS berjalan, apakah layanan kesehatan perempuan mudah diakses, apakah sekolah bebas perundungan berbasis gender. Itu tolok ukur nyata Pancasila.
Persatuan Indonesia, Sila ke-3, juga dimulai dari keluarga. Rumah yang tenang lahir saat suami-istri saling menghargai keputusan. Desa yang maju lahir saat perempuan dilibatkan musyawarah, bukan hanya disuruh menyiapkan konsumsi. Negara kokoh saat anak laki-laki diajarkan menghormati, bukan mendominasi.
Tentu jalannya tidak mudah. Ada stigma “kodrat”, ada bias “pemimpin harus laki-laki”, ada rasa takut perempuan bersuara. Tapi Pancasila memberi kita kompas gotong royong. Laki-laki jadi mitra, bukan penjaga gerbang. Perempuan maju, bukan menunggu izin. Semua bergerak bareng.
Untuk anak muda, 1 Juni ini bisa jadi cermin. Mulai dari hal sederhana: panggil teman perempuan dengan hormat, hargai pendapatnya di diskusi, laporkan jika lihat pelecehan. Revolusi Pancasila dimulai dari sikap kita sehari-hari, bukan hanya pidato saat upacara.
Penutupnya saya pinjam semangat Ketua PWI Kabupaten Sukabumi, Abah Anom: jadikan Hari Lahir Pancasila sebagai titik balik. Titik balik untuk kerja lebih keras, lebih jujur, lebih kompak, dan saya tambah: lebih setara. Karena Indonesia yang adil pada perempuannya, pasti adil pada seluruh anak bangsanya. Dan Indonesia seperti itulah yang akan sampai ke 2045 dengan kepala tegak.
Selamat Hari Lahir Pancasila. Mari amalkan, bukan sekadar rayakan.***
Editor : M. Nabil
(Aab)