Bisnisnews.net – Ketua Umum PPJNA 98, Anto Kusumayuda, menilai pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan komitmen kuat menjalankan nilai-nilai Pancasila. Komitmen itu terlihat dari arah kebijakan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tapi menempatkan keadilan sosial, pemerataan, dan perlindungan kelompok rentan sebagai prioritas.
Bagi Anto, Pancasila bukan hanya dasar negara yang tertulis di UUD 1945. Lebih dari itu, Pancasila adalah pedoman hidup bernegara. Karena itu, setiap kebijakan publik yang lahir dari pemerintah idealnya memantulkan semangat gotong royong, keadilan, persatuan, dan keberpihakan pada rakyat.
“Presiden Prabowo menunjukkan bahwa Pancasila bisa diterjemahkan jadi kebijakan nyata yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat,” ujar Anto kepada wartawan, Senin 1/6/2026. Pembangunan, menurutnya, tidak boleh hanya jadi angka statistik. Rakyat harus merasakan manfaatnya di dapur, sekolah, dan puskesmas.
Anto menyoroti Sila ke-5: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Ia menilai sila ini jadi fondasi banyak program pemerintah saat ini. Upaya memastikan hasil pembangunan dinikmati semua lapisan, termasuk warga di wilayah terpencil dan kelompok ekonomi lemah, adalah wujud nyata pengamalan sila tersebut.
Dalam pandangan PPJNA 98, negara wajib hadir untuk rakyat. Hadir memenuhi kebutuhan dasar: pendidikan yang terjangkau, kesehatan yang layak, pangan yang cukup, dan kesempatan kerja yang luas. Kehadiran negara di sektor-sektor itu adalah implementasi langsung amanat Pancasila.
Anto menegaskan, keberpihakan pada rakyat adalah ciri utama pemerintahan berideologi Pancasila. Karena itu, semua langkah yang tujuannya meningkatkan kualitas hidup masyarakat harus terus dapat dukungan dari seluruh elemen bangsa. Kritik boleh, tapi jangan sampai menghambat.
Selain kesejahteraan, Anto juga melihat upaya memperkuat Sila ke-3: Persatuan Indonesia lewat pemerataan pembangunan. Indonesia besar dan beragam. Kalau pembangunan hanya menumpuk di Jawa, kesenjangan akan lebar dan rasa kebangsaan bisa retak. Pembangunan yang merata ke Sabang-Merauke justru menguatkan integrasi nasional.
PPJNA 98 juga menilai semangat gotong royong kembali jadi nafas pembangunan. Anto yakin, negara tidak bisa bekerja sendiri. Perlu sinergi pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan ormas. “Bangsa ini dibangun dengan semangat gotong royong. Kita harus jalan bersama untuk Indonesia maju dan sejahtera,” katanya.
Perhatian khusus diberikan pada generasi muda. Anto menyebut SDM adalah investasi jangka panjang. Generasi muda yang berpendidikan baik, berkarakter kuat, dan paham nilai kebangsaan adalah modal utama menuju Indonesia Emas 2045. Mereka harus jadi pelaku, bukan penonton sejarah.
“Pancasila adalah kompas bangsa,” pungkas Anto.
Ketika nilai-nilainya dijalankan konsisten di pemerintahan dan masyarakat, tujuan bernegara mewujudkan kesejahteraan rakyat akan lebih mudah dicapai. PPJNA 98, lanjutnya, mendukung penuh setiap upaya yang mengarah pada rakyat sejahtera dan persatuan nasional yang makin kokoh.***
Editor : M. Nabil
(Aab)