Menyalakan Kembali Api 21 Mei: Prabowo, Perang Melawan Oligarki, dan Langkah Kesatria di Jalan Umar bin Khattab

Date:

Oleh : Aam Abdul Salam, Aktivis 98/Sekjen PPJNA 98, Presidium MD KAHMI Sukabumi, Penasehat PWI/SMSI Sukabumi, Pembina Yayasan Majelis Dzikir Merah Putih

Bisnisnews.net – Hari ini, 21 Mei, penanggalan sejarah kembali mengetuk kesadaran kita. Dua puluh delapan tahun lalu, Reformasi bergulir dengan janji besar: mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat. Namun dalam perjalanannya, kebebasan politik sering kali dibajak oleh segelintir elite yang menguras isi bumi pertiwi. Di titik refleksi inilah, kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto hadir bukan sekadar sebagai kelanjutan administratif, melainkan sebuah momentum pembersihan sejarah.

Secara filosofis, _kekuasaan dalam tradisi Nusantara adalah wahyu jatiningrat—sebuah amanah sakral untuk memuliakan manusia_, bukan alat menumpuk harta. Prabowo tampaknya memahami betul ruh politik kebangsaan dan kerakyatan ini. Gerakan progresifnya merebut kembali lahan-lahan negara yang telantar atau dikuasai secara ilegal untuk dialihkan menjadi lumbung pangan dan pusat energi mandiri adalah aksi nyata dekolonisasi modern. Negara tidak lagi tunduk pada korporasi, melainkan hadir sebagai pelindung komunal.

Langkah ini berkelindan erat dengan dimensi spiritual yang dalam. Ketika program makanan bergizi gratis digulirkan untuk anak-anak sekolah dan ibu hamil di pelosok nusantara, kita seperti melihat kembali fragmen sejarah Khalifah Umar bin Khattab. Pemimpin besar Islam itu rela memikul sendiri karung gandum di kegelapan malam demi memastikan tidak ada satu pun rakyatnya yang kelaparan. Prabowo sedang menapaki jalan spiritual tersebut: menyiapkan Generasi Emas bukan dengan retorika, melainkan dengan pemenuhan gizi nyata di atas piring-piring anak bangsa.

Namun, setiap fajar pembaruan selalu dihadang oleh pekatnya malam. Ketegasan pemerintah menghantam mafia kelas kakap—termasuk para drakula minyak yang kini mulai mengenakan rompi tersangka—memicu kepanikan luar biasa di lingkaran oligarki hitam. Mereka yang terbiasa menjadikan Indonesia sebagai sapi perah kini meradang.

Gerakan perlawanan balik (counter-attack) dari para mafia ini bergerak senyap namun masif, berkolaborasi dengan kepentingan asing yang tidak ingin Indonesia mandiri. Senjata-senjata klasik mulai diluncurkan: nilai tukar Rupiah digempur di pasar keuangan untuk menciptakan kepanikan ekonomi, sementara jaringan LSM yang disubstitusi dana asing mulai bermanuver memproduksi narasi-narasi miring.

Setiap kebijakan pengelolaan sumber daya alam (SDA) dan hilirisasi energi yang menguntungkan rakyat selalu dicari celahnya untuk didelegitimasi.

Inilah ujian estetika politik yang sesungguhnya. Pertarungan hari ini adalah benturan antara “kesatriaan” melawan “keserakahan”. Asing dan kaki tangannya ingin Indonesia tetap menjadi pasar yang konsumtif dan lumbung bahan mentah yang murah. Sementara Prabowo memilih jalur tegak: memastikan kedaulatan penuh atas air, tanah, dan udara demi kemakmuran domestik.

Sebagai seorang kesatria yang memegang teguh amanah para wali, pendiri bangsa, dan raja-raja Nusantara, serangan fajar dari berbagai penjuru ini tampaknya tidak akan membuat langkah Prabowo goyah.

Sejarah mencatat bahwa pemimpin yang bergerak dengan ketulusan untuk perut rakyatnya akan selalu memiliki perisai terkuat. Perisai itu bernama cinta rakyat dan untaian doa dari para ulama serta Kekasih Allah (Aulia).Tantangan ke depan memang tidak mudah, namun ini adalah harga yang harus dibayar untuk menjadi bangsa yang besar.

Di bawah perlindungan Allah SWT, bersama keteguhan kepemimpinan yang berpihak pada Wong Cilik, Indonesia sedang berjalan tegap keluar dari bayang-bayang neokolonialisme menuju kejayaan yang hakiki. Sehat selalu, Pak Presiden. Indonesia bersamamu.***

Editor : M. Nabil

(Aab)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Hari Nelayan Palabuhanratu ke-66 Bawa Berkah, Warung Jus Q&D Meraup Omzet Berlipat

Bisnisnews.net - Gelaran perayaan Hari Nelayan Palabuhanratu ke-66 yang...

Asep Japar Lepas Festival Hari Nelayan Palabuhanratu ke-66: Warisan Budaya yang Mendunia

Bisnisnews.net – Halaman Pendopo Kabupaten Sukabumi dipenuhi suasana khidmat...

Hari Nelayan Palabuhanratu 2026, Apresiasi untuk Penjaga Ketahanan Pangan dan Penggerak Ekonomi Pesisir

Bisnisnews.net - Peringatan Hari Nelayan Palabuhanratu Tahun 2026 menjadi...

Membaca Ulang Gerakan Reformasi 98: Ketika Kekuasaan Orde Baru Kehilangan “Kemalunnya”

Oleh: BENNY RHAMDANI/ Ketua Umum Barikade-98Bisnisnews.net - Ada kekeliruan...