Pelemahan Rupiah Dorong Percepatan RUU Migas Demi Kemandirian Energi

Date:

Bisnisnews.net – Tekanan terhadap rupiah yang terus melemah terhadap dolar AS sudah terasa hingga ke dapur rumah tangga. Harga bahan pokok merangkak naik karena biaya impor dan distribusi ikut membengkak. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini berisiko meluas menjadi persoalan sosial.

Ekonomi Indonesia memang masih bergantung pada impor untuk energi, bahan baku industri, hingga sejumlah kebutuhan pangan. Setiap kali dolar menguat, ongkos produksi dan harga barang otomatis terdongkrak. Beban itu pada akhirnya jatuh ke masyarakat.

Kelompok yang paling terpukul adalah masyarakat berpenghasilan rendah. Harga beras, minyak goreng, ongkos transportasi, dan kebutuhan sehari-hari naik bersamaan. Di saat daya beli belum pulih penuh, situasi ini bisa memicu keresahan jika tidak segera dijawab dengan kebijakan konkret.

Intervensi jangka pendek di pasar valas saja tidak cukup. Pemerintah perlu menyentuh akar masalah, terutama ketahanan energi dan pengelolaan sumber daya alam. Salah satu langkah mendesak adalah menyelesaikan Rancangan Undang-Undang Minyak dan Gas Bumi.

Selama ini sektor migas berjalan tanpa kepastian regulasi yang kuat. Padahal energi adalah urat nadi ekonomi nasional. Ketergantungan pada impor minyak membuat Indonesia mudah terguncang saat harga dunia naik dan rupiah melemah. Subsidi tertekan, beban APBN membesar, dan harga kebutuhan masyarakat ikut naik.

RUU Migas harus dilihat sebagai alat untuk memperkuat kedaulatan ekonomi, bukan sekadar regulasi teknis. Negara butuh aturan yang menjamin pengelolaan migas lebih berpihak pada rakyat, memperbesar peran nasional, dan memangkas ketergantungan impor.

Jika regulasi ini jelas dan pro-kepentingan nasional, Indonesia punya peluang memperkuat ketahanan energi sekaligus menjaga stabilitas ekonomi jangka panjang. Ketergantungan pada dolar tidak bisa dibiarkan terus berulang.

Bagian penting lainnya adalah hilirisasi industri energi. Sumber daya alam Indonesia melimpah, tapi nilai tambahnya sering dinikmati pihak luar. Tanpa penguatan industri dalam negeri, kita tetap harus impor produk jadi dengan harga mahal.

Pemerintah dan DPR perlu berani mengambil keputusan strategis sekarang. Menunda pembahasan regulasi penting hanya akan memperpanjang ketidakpastian dan memperbesar risiko ekonomi ke depan.

Di tengah tekanan global, negara wajib hadir dengan kebijakan yang memberi kepastian. Menjaga rupiah, memperkuat ketahanan pangan, dan mendorong kemandirian energi harus jadi prioritas. Jika tidak, pelemahan rupiah bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga ancaman bagi stabilitas sosial.***

Oleh: Dede Heri, Sekjen Rumah Literasi Merah Putih/Fungsionaris PB HMI

Editor : Aab Abdul Malik

(DH)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Konferensi VI PWI Kabupaten Sukabumi Sukses Digelar, Bah Anom Nakhoda Baru Periode 2026-2029

Bisnisnews.net – Persatuan Wartawan Indonesia Kabupaten Sukabumi merampungkan Konferensi...

PWI Sukabumi Tegaskan Komitmen Pers Profesional di Konferensi VI, Pilih Pengurus Baru 2026-2029

Bisnisnews.net – Persatuan Wartawan Indonesia Kabupaten Sukabumi menggelar Konferensi...

Spirit dan Jiwa Sukabumi: Secangkir Kopi, Gerakan Narasi, dan Benteng Kedaulatan Bangsa

Menyalakan Spirit dan Jiwa Sukabumi dalam Gerakan Narasi, duduk...

Warga Binaan Lapas Sukabumi Panen Pakcoy Hidroponik dari Lorong Sempit Penjara

Bisnisnews.net - Keterbatasan ruang di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas)...