Bisnisnews.net – Langkah Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) menutup akses penyebaran konten provokatif terkait tuduhan tidak manusiawi terhadap Sekretaris Kabinet bukan sekadar tindakan administratif.
Secara mendalam, ini adalah langkah kebudayaan dan spiritual untuk menjaga kesucian ruang siber kita dari polusi narasi yang merusak.
Dalam kacamata filsafat, kata-kata adalah refleksi dari jiwa. Narasi yang dibangun atas dasar kebencian dan upaya menciptakan instabilitas publik merupakan bentuk “angkara murka” modern.
Negara hadir bukan untuk membatasi suara, tapi untuk menyeleksi racun yang bisa merobek tenun kebangsaan.
Secara spiritual, setiap informasi yang kita konsumsi membawa energi. Membiarkan berita berisi dendam sama saja dengan membiarkan energi gelap menyelimuti negeri.
Energi positif pada akhirnya akan menyeleksi dan meluruhkan energi negatif secara alami. Kita harus memenuhi ruang publik dengan informasi yang membangun, bukan menjatuhkan.
Energi positif adalah pancaran cahaya Ilahi yang membawa keberkahan dan rahmat bagi bumi pertiwi.
Mari kita perkuat bangsa ini dengan tiga langkah nyata:
1. Menghentikan jempol dari membagikan konten penuh kebencian.
2. Mengutamakan tabayyun atau verifikasi sebelum bereaksi.
3. Mengisi linimasa dengan inspirasi, karya, dan optimisme.
Dengan membersihkan ruang digital dari residu kebencian, kita sedang mengundang rahmat Tuhan untuk tetap bernaung di Indonesia.
Mari kita jadikan teknologi sebagai jembatan menuju keluhuran budi, bukan alat penyebar sengketa dan pecah belah yang akan merusak persatuan dan kesatuan bangsa.
Dengan energi positif memperkuat kebersamaan, persaudaraan, dan Persatuan Nasional menuju Indonesia Emas.***
Penulis: Dede Heri/ Sekjen Rumah Literasi Merah Putih, Fungsionaris PB HMI
Editor : M. Nabil