Wartain.com || Program MBG punya potensi besar sebagai penggerak ekonomi lokal, bukan hanya pemenuhan gizi atau layanan sosial. Hal itu ditegaskan Sekjen Rumah Literasi Merah Putih, Dede Heri, dalam tulisannya.
Menurut Heri jika dijalankan serius dan terstruktur, MBG bisa menciptakan ekosistem ekonomi hidup di sekitar dapur-dapur program. Dampaknya melampaui tujuan utama, menyentuh langsung perputaran uang di masyarakat bawah.
Anggaran yang masuk ke tiap dapur MBG bukan angka kecil. Dikelola baik, dana itu memicu efek domino: serap tenaga kerja lokal, berdayakan UMKM, hingga naikkan pendapatan warga sekitar dapur.
Sayangnya, potensi itu kerap belum maksimal. Heri menyebut penyebabnya ada pada lemahnya pengawasan, perencanaan yang kurang matang, serta orientasi program yang masih terlalu sempit.
Di titik ini, peran pemda jadi krusial. Pemerintah daerah tidak cukup jadi pelaksana administratif. Pemda harus jadi penggerak utama agar MBG benar-benar memberi nilai tambah ekonomi bagi wilayahnya.
Caranya konkret: pastikan bahan baku dapur dari petani, peternak, dan pelaku usaha lokal. Dengan begitu, uang tidak keluar daerah, tapi berputar di masyarakat setempat dan menguatkan rantai pasok lokal.
Heri juga menekankan transparansi dan akuntabilitas dapur. Jangan sampai niat baik MBG tercoreng praktik yang utamakan keuntungan pribadi atau kelompok. Pengawasan berbasis masyarakat penting agar program tetap di jalurnya.
Lebih jauh, MBG bisa jadi pintu masuk kemandirian ekonomi berbasis komunitas. Dapur MBG dapat dikembangkan jadi pusat pelatihan, inovasi pangan lokal, hingga inkubator usaha kecil untuk warga sekitar.
Jika dikelola dengan visi jangka panjang, MBG berubah dari program bantuan menjadi gerakan ekonomi rakyat. Kuncinya: sinergi pemda, pengelola dapur, dan masyarakat agar setiap rupiah berdampak luas.
Keberhasilan MBG tidak cukup diukur dari jumlah penerima manfaat langsung. Ukuran sesungguhnya: seberapa jauh program ini menghidupkan ekonomi masyarakat. Dikelola benar, MBG bisa jadi contoh kebijakan publik yang menjawab dua tantangan sekaligus: kesejahteraan sosial dan pertumbuhan ekonomi.***
Editor : M. Nabil
(DH)