Oleh : Aam Abdul Salam/Sekjen PPJNA 98, Komite Pergerakan Indonesia untuk Kedaulatan Energi, Presidium Korp Alumni HMI/MD KAHMI Sukabumi, Mantan Ketua Dewan Tani Indonesia/DTI Jawa Barat
Bisnisnews.net || Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diusung Presiden Prabowo Subianto bukan sekadar kebijakan teknokratis, melainkan sebuah gerakan kebudayaan dan spiritual yang mengakar pada jati diri bangsa. Di balik setiap suapan gizi bagi puluhan juta anak sekolah, santri, ibu hamil, dan bayi, terpancar sebuah transformasi besar yang menyentuh tiga pilar utama kehidupan bernegara kita.
1. Budaya Ekonomi: Mengembalikan Marwah Koperasi
Secara budaya, ekonomi Indonesia sejatinya adalah ekonomi komunal, bukan individualistik. Program MBG yang diperkuat oleh Kedaulatan Desa Mandiri Pangan (KDMP) mengembalikan kita pada khitah tersebut.
Melawan Oligarki: Dengan menjadikan koperasi sebagai jantung rantai pasok, kita sedang meruntuhkan tembok kapitalisme oligarki yang selama ini menyumbat aliran rezeki di tingkat atas.
Ekonomi dari Bawah: Anggaran negara kini tidak lagi menumpuk di pusat, melainkan mengalir deras ke kelurahan, menggerakkan petani lokal, peternak, dan UMKM. Inilah ekonomi gotong royong dalam bentuk paling nyata.
2. Nasionalisme: Menunaikan Janji Pendiri Bangsa
Program ini adalah jembatan emas menuju Indonesia Emas, sebuah janji nasionalisme yang melintasi zaman.
Trisakti Soekarno: MBG adalah langkah konkret mencapai kedaulatan pangan dan kemandirian ekonomi. Kita sedang membangun “manusia baru” Indonesia yang sehat secara fisik dan cerdas secara intelektual.
Soko Guru Hatta: Menghidupkan kembali koperasi sebagai pilar utama adalah bentuk penghormatan tertinggi pada amanah Bung Hatta. Nasionalisme bukan lagi sekadar slogan, tapi sepiring nasi dan lauk bergizi bagi masa depan bangsa.
3. Spiritualitas: Makan sebagai Ibadah dan Keberkahan
Dalam kacamata spiritual, memberi makan adalah perbuatan yang paling mulia. MBG mengubah dapur-dapur komunitas menjadi tempat ibadah sosial.
Keceriaan yang Terpancar: Senyum anak-anak di pelosok desa dan kebahagiaan orang tua adalah doa yang tulus bagi bangsa.
Keberkahan Kerja: Jutaan relawan yang menemukan mata pencaharian di dapur MBG membawa nafkah yang berkah bagi keluarga mereka. Ada getaran spiritual ketika sebuah bangsa bersatu memastikan tidak ada satu pun anggotanya yang kelaparan.
Biarkan Suara Sumbang
Sangat ironis melihat masih ada pihak yang sinis terhadap program semulia ini. Mereka yang menyebar kebencian sejatinya tidak ingin melihat Indonesia tegak berdiri sebagai negara besar dengan SDM yang unggul. Namun, kegelapan tidak akan pernah bisa mengalahkan cahaya niat tulus.
Bapak Presiden Prabowo, janganlah bergeming oleh cemoohan. Langkah Anda adalah titian doa dari rakyat kecil yang selama ini terlupakan. Rakyat Indonesia berdiri kokoh di belakang Anda, mengawal setiap piring gizi demi martabat bangsa.***
Editor : M. Nabil
(Aab)