Bisnisnews.net || Pemanfaatan gas elpiji 3 kilogram sebagai bahan bakar angkutan kota (angkot) di Sukabumi memicu perhatian publik. Menanggapi hal tersebut, PT Pertamina Patra Niaga menegaskan bahwa penggunaan elpiji bersubsidi untuk kendaraan tidak dibenarkan.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat (JBB), Susanto August Satria, menyatakan bahwa LPG 3 kg memiliki sasaran pengguna yang jelas dan terbatas.
“LPG 3 Kg diperuntukkan untuk konsumen rumah tangga, usaha mikro, petani sasaran, dan nelayan sasaran,” kata Susanto, Rabu (15/4/2026).
Ia menegaskan, pemanfaatan elpiji di luar ketentuan tersebut bertentangan dengan kebijakan pemerintah yang telah ditetapkan.
“Penggunaan LPG 3 Kg di luar peruntukannya jelas tidak sesuai dengan kebijakan pemerintah,” ujarnya.
Tak hanya soal regulasi, Pertamina juga menyoroti potensi bahaya dari modifikasi kendaraan yang beralih ke bahan bakar gas tanpa standar yang tepat.
“Aspek keselamatan harus diperhatikan ketika memodifikasi kendaraan, terlebih dalam penggantian bahan bakar,” ujarnya.
Menurut Susanto, pemerintah sebenarnya telah menyediakan opsi resmi bagi kendaraan yang ingin menggunakan bahan bakar gas, yakni melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG). Fasilitas tersebut dinilai lebih aman karena telah memenuhi standar teknis dan aspek keselamatan.
Fenomena ini mencuat setelah sejumlah angkot di Sukabumi diketahui menggunakan elpiji 3 kg demi menekan biaya operasional. Praktik tersebut bahkan ramai diperbincangkan di media sosial.
Salah satu pengemudi, Hendra Irawan (53), sopir angkot trayek 01 jurusan Terminal Sukaraja–Kota Sukabumi, mengaku mulai beralih setelah melihat rekan seprofesinya lebih dulu mencoba.
“Awalnya ikut teman saja. Dia sudah pakai duluan, saya tanya-tanya dulu soal keluhan dan kendalanya. Setelah dipertimbangkan, akhirnya saya pasang juga,” ujar Hendra.
Ia merasakan adanya penghematan setelah beralih ke elpiji. Dalam sehari, pengeluaran operasionalnya bisa berkurang sekitar Rp40 ribu hingga Rp50 ribu dibandingkan saat menggunakan bensin.
Untuk aktivitas harian, Hendra menghabiskan sekitar dua tabung gas, dengan satu tabung mampu digunakan hingga empat kali perjalanan. Selisih biaya yang cukup signifikan menjadi alasan utama dirinya mempertahankan penggunaan elpiji.
Meski demikian, penggunaan elpiji 3 kg untuk kendaraan tetap menimbulkan polemik. Selain tidak sesuai aturan, praktik ini juga dinilai berpotensi membahayakan, sehingga perlu mendapat perhatian serius dari berbagai pihak.***(RAF)
Editor : M. Nabil