Bisnisnews.net – Jika pembangunan hanya diukur dari jalan mulus dan gedung tinggi, kita lupa setengah dari penduduknya.
Di Kabupaten Sukabumi, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) menegaskan, kemajuan sejati adalah ketika perempuan punya ruang yang setara dan anak tumbuh tanpa rasa takut.
Momentum Hari Inovasi Indonesia, 1 November 2026, dipakai DP3A bukan untuk pamer program baru, tapi untuk memastikan inovasi benar-benar menyentuh dapur, lapangan, dan ruang bermain anak.
Di bawah komando Kepala DP3A, H. Agus Sanusi, S.K.M., M.Si., DP3A mengubah cara kerja. Dari sekadar administratif, menjadi kolaboratif.
Buktinya, DP3A aktif dalam penilaian Indeks Inovasi Perangkat Daerah (IIPD) yang dikoordinasikan Bapperida. Bukan soal piala, tapi soal memastikan setiap program diuji: apakah relevan, apakah berdampak?
Dari Cager hingga UMKM Perempuan
Di lapangan, inovasinya konkret. Ada Program Cager yang mendorong perempuan cerdas dan berdaya, ada Sekolah Perempuan Jawa Barat yang membuka kelas-kelas keterampilan, dan ada pembinaan UMKM perempuan yang mengubah ibu rumah tangga menjadi pengusaha mandiri.
“Ketika perempuan punya penghasilan sendiri, ketahanan keluarga ikut kuat,” menjadi logika yang terus didorong DP3A.
Anak Tidak Bisa Dijaga Sendirian
Untuk anak, DP3A tidak jalan sendiri. Mereka menggandeng Forum Anak Daerah, agar anak bersuara untuk anak, dan bersinergi dengan TP PKK hingga tingkat desa.
Tujuannya satu, menciptakan kampung yang ramah anak, di mana kekerasan dan diskriminasi bukan lagi dianggap urusan rumah tangga, melainkan musuh bersama.
Di Hari Inovasi ini, pesan DP3A jelas, inovasi bukan soal aplikasi canggih atau sistem digital semata.
Inovasi adalah ketika seorang perempuan di pelosok Sukabumi bisa menjual produknya secara online. Ketika seorang anak berani melapor jika merasa tidak aman. Ketika keluarga menjadi tempat pertama yang melindungi, bukan melukai.
Itulah inovasi yang ingin dijaga DP3A, inovasi yang membuka kesempatan dan melindungi masa depan.***
Editor: M. Nabil
(Aab)