Bisnisnews.net – Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memberi sinyal waspada soal arah suku bunga. Jika Bank Indonesia (BI) tidak ikut menaikkan suku bunga saat bank sentral dunia mengerek bunganya, nilai tukar rupiah berpotensi tertekan.
Tenaga Ahli Utama DEN, Luthfi Ridho, mengatakan kuncinya ada di _interest rate differential_ atau selisih suku bunga. Saat selisih itu menyempit, aset keuangan Indonesia menjadi kurang menarik bagi investor global.
“Kalau kita enggak ikut naikin suku bunga, gap dengan negara lain mengecil. Itu risikonya ke rupiah,” ujar Luthfi dalam diskusi di Jakarta Selatan, Selasa (20/10/2026).
Luthfi menjelaskan, inflasi global yang kembali menghangat membuat bank-bank sentral besar kembali hawkish. Pada September 2026, The Fed, ECB, dan Bank of Japan kompak menaikkan suku bunga 25 basis poin.
The Fed kini di 4,00 persen, ECB di 2,50 persen, dan Bank of Japan di 1,25 persen. Kenaikan itu membuat selisih imbal hasil US Treasury 10 tahun dengan SUN 10 tahun Indonesia makin tipis.
“Kalau suku bunga kita tidak menyesuaikan, yang menyesuaikan adalah nilai tukar rupiah,” katanya.
Menurut Luthfi, pasar obligasi domestik memang masih cukup resilien di tengah gejolak pasar saham, tapi bukan berarti bisa abai.
“Kalau global naik, seharusnya kita juga ikut naik supaya mengamankan nilai tukar rupiah,” tegasnya.***
Editor: M. Nabil
(Aab)