Bisnisnews.net – Rupiah mencatat kinerja terburuk di Asia pada penutupan perdagangan Senin (19/10/2026). Di tengah penguatan mata uang regional, rupiah justru terperosok tajam terhadap dolar AS.
Mengutip analisis Doo Financial Futures, rupiah melemah 87 poin atau 0,49% ke level Rp18.025 per dolar AS pada Jumat (16/10/2026).
Pelemahan ini berbanding terbalik dengan mayoritas mata uang Asia. Won Korea Selatan melesat 0,66%, baht Thailand naik 0,31%, dolar Singapura menguat 0,14%, peso Filipina dan rupee India masing-masing menguat 0,10%, serta yuan China naik tipis 0,04%. Yen Jepang, dolar Hong Kong, dan ringgit Malaysia stagnan.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut anjloknya rupiah dipicu sentimen risk off domestik.
“Rupiah ditutup melemah tajam terhadap dolar AS di tengah sentiment risk off domestik oleh kekhawatiran downgrade MSCI,” ujar Lukman, Jumat (16/10/2026).
Padahal, indeks dolar AS sendiri sedang melemah seiring meredanya aksi jual di pasar obligasi global.
Ke depan, tekanan terhadap rupiah masih membayangi. Arah pergerakan akan sangat ditentukan respons investor dan langkah strategis pemerintah untuk meredam kekhawatiran terkait MSCI.
Jika kecemasan pasar mereda, tekanan terhadap Garuda berpotensi berkurang. Untuk jangka pendek, rupiah diperkirakan bergerak di rentang Rp18.000 hingga Rp18.200 per dolar AS.***
Editor: M. Nabil
(Aab)