Bisnisnews.net — Sisa pengolahan ikan di wilayah Sukabumi, Jawa Barat, mulai dilirik sebagai sumber bahan baku untuk menghasilkan produk nonpangan bernilai ekonomi. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong agar potensi tersebut dikembangkan melalui skema kemitraan yang melibatkan pemerintah, pelaku usaha hingga lembaga pendukung.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP, Erwin Dwiyana, mengatakan pemanfaatan hasil samping pengolahan ikan dapat menjadi bagian dari pengembangan industri diversifikasi berbasis potensi lokal.
Menurutnya, model industri tersebut dapat diterapkan dalam skala mikro dan kecil dengan menyesuaikan ketersediaan bahan baku di masing-masing wilayah.
“Industri diversifikasi juga mendukung implementasi ekonomi biru yang menekankan pada prinsip keberlanjutan ekologi,” ujar Erwin Dwiyana di Jakarta, Jumat (10/2/2026).
Erwin menyebut aktivitas pendaratan, penanganan dan pengolahan ikan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu menghasilkan berbagai hasil samping, mulai dari kepala, tulang, kulit, sisik hingga jeroan.
Dalam sehari, volume sisa pengolahan tersebut diperkirakan berada di kisaran 50 hingga 100 kilogram. Bahan tersebut dinilai masih memiliki potensi untuk diolah menjadi produk yang mempunyai nilai tambah, salah satunya tepung ikan sebagai bahan baku industri pakan.
“Ini bukan sekadar penanganan limbah produksi perikanan, tapi membuka peluang usaha produk nonpangan dan dapat meningkatkan penyerapan tenaga kerja,” katanya.
Untuk merealisasikan potensi tersebut, KKP menilai diperlukan ekosistem usaha yang saling terhubung. Pengelola PPN Palabuhanratu, pemerintah daerah, pelaku usaha perikanan, BBAT Sukabumi sebagai offtaker serta unit pakan mandiri yang telah memiliki sertifikasi CPPIB dapat mengambil peran dalam rantai produksi.
Erwin menilai kepastian pasar menjadi salah satu aspek penting agar pemanfaatan hasil samping perikanan dapat berjalan secara konsisten.
Dengan pola kemitraan yang jelas, sisa pengolahan ikan tidak hanya dapat dikurangi dari sisi dampak lingkungan, tetapi juga diarahkan menjadi komoditas yang menghasilkan nilai ekonomi baru bagi masyarakat.
“Pengolahan ini sekaligus mendukung program nasional seperti Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) dan Budidaya Tematik,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan BBAT Sukabumi, Susi Rosellia, menilai produksi tepung ikan dari bahan baku lokal memiliki prospek dalam mendukung keberlanjutan sektor budidaya.
Ketersediaan tepung ikan dengan kualitas yang memenuhi standar, kata dia, dapat membantu industri pakan memperoleh bahan baku dari dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.
Susi menyebut tepung ikan yang memenuhi ketentuan SNI 2715:2013 dapat menjadi salah satu komponen penting dalam pengembangan pakan ikan.
“Ketergantungan terhadap pakan dan bahan baku impor seperti tepung ikan masih cukup tinggi, dan pengolahan sisa industri adalah solusi kemandirian budidaya,” katanya.
Potensi bahan baku juga ditemukan dari aktivitas pengolahan ikan di sejumlah wilayah lainnya di Kabupaten Sukabumi.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Sukabumi, Sri Padmoko, mengungkapkan sisa pengolahan fillet ikan berpotensi mencapai sekitar 500 kilogram per hari atau sekitar 10 ton dalam satu bulan.
“Potensi ini terbukti bernilai tinggi jika dikelola secara terstruktur melalui kemitraan yang jelas antarstakeholder,” ujarnya.
Upaya pengembangan pemanfaatan hasil samping perikanan tersebut mulai dilakukan KKP melalui Sosialisasi Diversifikasi dan Nilai Tambah Produk Perikanan Non Pangan di Palabuhanratu pada 10 September 2026.
Kegiatan itu melibatkan PPN Palabuhanratu, BBAT Sukabumi, Dinas Kelautan dan Perikanan Sukabumi serta kalangan akademisi, termasuk Sekolah Vokasi IPB.
Pemanfaatan hasil samping pengolahan ikan menjadi produk bernilai tambah dinilai sejalan dengan kebijakan hilirisasi sektor kelautan dan perikanan. Program tersebut juga diarahkan untuk memperkuat ekonomi lokal sekaligus mendukung penerapan prinsip ekonomi biru.
Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyampaikan bahwa program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) menjadi salah satu strategi pemerintah dalam mendorong hilirisasi perikanan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan di berbagai daerah.***(RAF)
Editor: M. Nabil