Bisnisnews.net — Pemekaran Desa Kertaraharja, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, pada tahun ‘2012 menjadi salah satu momentum penting dalam perkembangan wilayah dan perekonomian masyarakat. Seiring bertambahnya aktivitas pembangunan dan masuknya sektor industri, desa tersebut kini mengalami perubahan dalam pola mata pencaharian maupun aktivitas ekonomi warga.
Sekretaris Desa Kertaraharja, Erlan, mengatakan perkembangan industri memberikan dampak cukup besar terhadap kehidupan masyarakat. Salah satu industri yang berkembang adalah pabrik sepatu GSI yang turut membuka kesempatan kerja bagi warga sekitar.
“Setelah pemekaran, perkembangan wilayah cukup terasa. Industri juga mulai berkembang dan memberikan peluang pekerjaan bagi masyarakat, termasuk dengan hadirnya perusahaan GSI,” ujarnya, Jumat (04/09/2026).
Menurutnya, meskipun sektor industri terus berkembang, pertanian masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Sekitar separuh warga masih bekerja sebagai petani, meski sebagian lainnya mulai beralih menjadi pekerja di sektor industri.
Selain pertanian dan industri manufaktur, aktivitas ekonomi masyarakat juga ditopang oleh sektor pertambangan serta pengolahan batu. Sementara untuk sektor pariwisata, hingga kini belum menjadi sumber ekonomi utama karena belum terdapat destinasi wisata yang dapat diandalkan sebagai ikon desa.
Dari sisi pembangunan, pemerintah desa berupaya mengarahkan pemanfaatan Dana Desa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Sejumlah pembangunan infrastruktur telah dilakukan, mulai dari jalan usaha tani hingga akses penghubung antarwilayah, termasuk pembangunan jembatan yang mempermudah konektivitas dengan desa sekitar.
Erlan menuturkan, pembangunan tidak hanya difokuskan pada infrastruktur. Pemerintah desa juga berusaha memperkuat pemberdayaan masyarakat agar warga memiliki kemampuan untuk menciptakan sumber pendapatan secara mandiri.
“Pemberdayaan masyarakat juga menjadi perhatian. Jangan sampai masyarakat hanya berharap mendapatkan pekerjaan. Kami ingin mendorong mereka supaya memiliki keterampilan dan mampu menciptakan usaha sendiri,” katanya.
Ia mengakui, salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah adanya sebagian masyarakat yang cenderung menginginkan pekerjaan dengan hasil cepat. Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah pemerintah desa untuk mengubah pola pikir masyarakat agar lebih berani mengembangkan usaha dan memanfaatkan potensi yang ada.
Dorongan terhadap sektor UMKM pun terus dilakukan. Sejumlah usaha mulai tumbuh di tengah masyarakat, termasuk usaha yang dirintis para pendatang. Salah satu yang berkembang adalah usaha pengolahan makanan, seperti produksi roti dan berbagai produk pangan lainnya.
Produk UMKM tersebut tidak hanya dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan warga Kertaraharja, tetapi mulai menyasar konsumen dari luar desa. Hal ini dinilai menjadi peluang yang dapat dikembangkan untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat.
Namun, pengembangan UMKM masih menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait efektivitas program dan dukungan dari pemerintah. Karena itu, diperlukan keterlibatan berbagai pihak agar pelaku usaha di tingkat desa mendapatkan pendampingan, akses pasar, serta dukungan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Erlan berharap sinergi antara pemerintah desa, pemerintah daerah, dan pemerintah pusat dapat semakin diperkuat sehingga potensi ekonomi masyarakat dapat berkembang secara berkelanjutan.
“Kami berharap masyarakat semakin mandiri. Potensi pertanian, industri, maupun UMKM bisa dikembangkan bersama sehingga memberikan manfaat yang lebih besar bagi perekonomian warga,” pungkasnya.***
Editor : M. Nabil
(IFU/Tim PPL Institut Al-Masthuriyah)