Bisnisnews.net – Pergerakan harga di Kota Sukabumi sepanjang Juli 2026 menunjukkan kondisi yang berbeda jika dilihat secara bulanan dan tahunan. Secara bulanan, harga konsumen justru turun tipis, tetapi dibandingkan Juli tahun lalu, terjadi kenaikan harga yang mendorong inflasi hingga 2,47 persen.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Sukabumi mencatat, IHK pada Juli 2026 mencapai 112,67. Angka tersebut meningkat dari 109,95 pada Juli 2025.
Kepala BPS Kota Sukabumi, Dani Jaelani, mengatakan kenaikan harga secara tahunan terjadi pada sejumlah kelompok pengeluaran.
“Perkembangan harga berbagai komoditas pada Juli 2026 secara umum menunjukkan adanya kenaikan. Berdasarkan hasil pemantauan BPS Kota Sukabumi pada Juli 2026 terjadi inflasi y-on-y sebesar 2,47 persen, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 109,95 pada Juli 2025 menjadi 112,67 pada Juli 2026,” kata Dani, Selasa (25/8/2026).
Salah satu kelompok dengan kenaikan paling tinggi adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya, yang mengalami inflasi tahunan sebesar 9,80 persen.
Di dalam kelompok tersebut, emas perhiasan menjadi komoditas yang memberikan andil cukup besar terhadap inflasi, yakni sebesar 0,52 persen.
Kenaikan harga juga terjadi pada sejumlah barang yang digunakan dalam kebutuhan sehari-hari. BPS mencatat sampo dan pasta gigi masing-masing memberikan andil 0,02 persen. Komoditas lainnya meliputi hand body lotion, minyak wangi, kacamata, serta jasa potong rambut wanita.
Sementara itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau turut memberikan tekanan terhadap inflasi. Kelompok ini mengalami inflasi tahunan sebesar 2,69 persen, dengan andil sebesar 1,22 persen.
Beberapa komoditas pangan menjadi penyumbang utama. Harga daging ayam ras dan minyak goreng masing-masing memberikan andil 0,13 persen. Kenaikan juga tercatat pada rokok kretek mesin dan tahu mentah.
Di tengah kenaikan harga secara tahunan tersebut, kondisi berbeda terlihat pada pergerakan harga dari Juni ke Juli 2026.
BPS mencatat Kota Sukabumi mengalami deflasi 0,02 persen secara bulanan.
Penurunan ini terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami deflasi 0,56 persen, serta kelompok perawatan pribadi yang turun 0,80 persen.
“Penurunan harga bulanan ini dipicu oleh koreksi harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang turun 0,56 persen, serta kelompok perawatan pribadi yang terkoreksi 0,80 persen,” ujar Dani.
Adapun secara kumulatif sejak awal tahun hingga Juli 2026, inflasi Kota Sukabumi tercatat 1,52 persen.
Dengan angka tersebut, tekanan inflasi tahunan di Kota Sukabumi masih lebih banyak dipengaruhi kenaikan harga pada sejumlah komoditas tertentu, meskipun secara bulanan perkembangan harga justru mengalami penurunan tipis.***(RAF)
Editor : M. Nabil