Bisnisnews.net – Kekeringan yang melanda Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, membuat petani harus mencari berbagai cara untuk mempertahankan tanaman padi mereka.
Di Kampung Sedamukti, Desa Bojongraharja, sejumlah petani bahkan terpaksa menggunakan aliran air yang diduga terkontaminasi limbah dari aktivitas pemotongan batu hijau untuk mengairi sawah.
Kondisi air yang dialirkan ke area persawahan tampak berbeda. Air berwarna putih terlihat menggenangi beberapa petak sawah, kontras dengan kondisi lahan pertanian pada umumnya yang menggunakan air lebih jernih.
Salah seorang petani, Danu, mengatakan air tersebut berasal dari aliran Sungai Cibojong. Aliran air kemudian melewati kawasan pemotongan batu sebelum dipompa menggunakan mesin menuju lahan persawahan.
Menurutnya, petani tidak memiliki banyak pilihan karena sumber air untuk irigasi semakin sulit didapat selama musim kemarau.
“Pengairan sawah memang susah karena tidak ada sumber air,” ujar Danu, Kamis (23/7/2026).
Ia mengatakan, mesin pompa menjadi andalan petani untuk mengalirkan air ke lahan. Jika tidak ada pasokan air dan mesin penyedot, tanaman padi dikhawatirkan mengalami kekeringan hingga gagal panen.
“Kalau tidak punya mesin sedot, bisa gagal panen. Di sana juga sudah kekeringan,” katanya.
Danu menyebut, beberapa mesin pompa celup digunakan untuk mendistribusikan air ke lahan pertanian. Dua mesin digunakan di salah satu titik, sedangkan sekitar lima mesin lainnya berada di lokasi berbeda.

Meski air yang digunakan berasal dari aliran yang melewati area pemotongan batu, Danu mengaku belum melihat dampak langsung terhadap tanaman padi.
“Sejauh ini tidak ada dampaknya. Air bekas pemotongan juga dingin, tidak terlalu panas,” ungkapnya.
Di sisi lain, Sekretaris Kecamatan Cikembar, Lenni Nurliah, mengakui adanya warga yang memanfaatkan air sungai yang diduga terindikasi limbah aktivitas pemotongan batu hijau.
Menurutnya, penggunaan air tersebut tidak terlepas dari kondisi kekeringan dan minimnya sumber air yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Lenni menilai, pemerintah perlu menyiapkan alternatif sumber air sebelum mengeluarkan larangan penggunaan air yang saat ini dimanfaatkan petani.
“Kalau kami memberikan imbauan, harus ada solusinya. Kalau ternyata tidak berdampak pada kesuburan tanah dan hasil panen, mungkin masih bisa digunakan,” ujarnya.
Pemerintah Kecamatan Cikembar berencana berkoordinasi dengan sejumlah dinas terkait, termasuk Dinas Pertanian, untuk mencari solusi atas persoalan kekeringan yang dialami petani.
Pasalnya, kondisi kekeringan telah menyebabkan sejumlah lahan pertanian mengalami gagal panen. Salah satu lokasi yang terdampak berada di kawasan irigasi Cibodas, Desa Parakanlima.
“Sudah ada beberapa titik yang gagal panen, salah satunya di daerah irigasi Cibodas, Desa Parakanlima. Padinya seharusnya mulai menguning dan berbunga, tetapi sudah tidak bisa diselamatkan karena kekeringan. Tanahnya juga sudah pecah,” jelas Lenni.
Ia berharap penanganan segera dilakukan agar kekeringan tidak meluas dan semakin banyak lahan pertanian yang mengalami gagal panen.***(RAF)
Editor : M. Nabil