Oleh : Aam Abdul Salam/ Presidium MD KAHMI Sukabumi, Wanhat PWI Kab.Sukabumi/Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sukabumi Raya
Bisnisnews.net – Dinamika sosial kemasyarakatan dan tantangan keumatan di Kabupaten Sukabumi kini berada di persimpangan jalan yang krusial. Gelombang digitalisasi tidak hanya mengubah cara manusia berkomunikasi, tetapi juga menguji ketahanan moral dan spiritual masyarakat.
Di tengah disrupsi ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sukabumi membutuhkan sosok ketua yang teruji tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual yang mumpuni, direstui ulama sepuh Sukabumi.
Energi Spiritual dan Totalitas Pengabdian
Pemimpin MUI Sukabumi ke depan wajib memiliki energi spiritual yang melimpah. Energi ini bukan sekadar kesalehan pribadi, melainkan bahan bakar utama untuk mewujudkan totalitas pengabdian tanpa batas kepada umat dan agama. Di era di mana batas-batas virtual mengaburkan nilai-nilai nyata, kehadiran sosok yang memancarkan keteduhan batin sangat dirindukan untuk membimbing umat agar tidak kehilangan arah.
Menjaga Marwah Ulama di Era Digital
Tantangan terbesar di era keterbukaan informasi adalah menjaga kehormatan dan wibawa institusi keulamaan. Sosok terpilih harus figur yang kuat, tegas, dan disegani dalam membentengi marwah ulama dari politisasi maupun degradasi moral. Ulama harus tetap menjadi kompas moral yang independen, jernih, dan menjadi rujukan utama bagi setiap persoalan umat, baik di dunia nyata maupun di ruang siber.
Sukabumi adalah mozaik besar yang terdiri dari berbagai latar belakang, organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam, dan strata sosial. Ketua MUI mendatang harus berperan sebagai pemersatu (جامع الأمة). Ia adalah figur yang berdiri di atas semua golongan, merangkul yang retak, dan mempererat yang renggang, sehingga ego kelompok lebur dalam semangat ukhuwah Islamiyah yang berkemajuan.
Sinergi Strategis Ulama dan Umaro demi Visi Mubarakah
Kepemimpinan spiritual yang kuat tidak akan berjalan optimal tanpa adanya kemitraan yang harmonis dengan pemerintah daerah. MUI ke depan harus mampu membangun sinergi dan kolaborasi yang dinamis dengan umaro (pemerintah) sebagai mitra strategis.
Kolaborasi ini menjadi kunci utama untuk menerjemahkan dan mengawal Visi Mubarakah—visi mulia Bupati dan Wakil Bupati Sukabumi dalam membangun masyarakat yang religius, maju, dan sejahtera. Ketika ulama dan umaro bergerak dalam satu irama, maka kebijakan publik akan selalu bernapaskan kemaslahatan umat. Pemimpin MUI yang ideal adalah ia yang mampu membawa Sukabumi tidak hanya maju secara fisik dan teknologi, tetapi juga berkah dan mendapat rida dari Allah SWT.***
Editor : M. Nabil
(Aab)