Lampu Mati, Danantara, dan Ujian Nyali di Sumatra

Date:

Oleh : Aam Abdul Salam, Aktivis 98, Sekjen PPJNA 98, Penasehat SMSI/PWI Kab.Sukabumi, Presidium MD KAHMI Sukabumi, Sekjen Komite Nasional Kedaulatan Energi

Bisnisnews.net – Gelap gulita yang tiba-tiba melanda Sumatra paska-pidato berani Presiden Prabowo Subianto pada 20 Mei di Gedung MPR/DPR RI memicu diskursus hangat di tengah masyarakat.

Saat Presiden dengan tegas mengumumkan bahwa tata kelola dan ekspor komoditas strategis seperti CPO, nikel, dan batu bara wajib satu pintu melalui Danantara guna menghentikan kebocoran dan manipulasi, gardu-gardu listrik di Sumatra justru tumbang. Kebetulan yang teramat presisi ini tentu mengundang tanya: apakah ini murni gangguan teknis, atau sebuah “pesan gelap” dari pihak yang terusik?

Berikut adalah analisis dari berbagai sudut pandang terkait teka-teki blackout Sumatra.

Benturan Arus Modal dan Kedaulatan

Secara hitungan kue ekonomi, kebijakan satu pintu via Danantara adalah ancaman langsung bagi para pemburu rente. Selama ini, manipulasi data ekspor dan pencurian Sumber Daya Alam (SDA) menjadi ladang basah yang menghasilkan triliunan rupiah di bawah meja. Ketika celah ini ditutup paksa, perputaran uang haram tersebut tersumbat. Blackout listrik dalam skala masif secara ekonomi bisa dibaca sebagai upaya menciptakan sentimen negatif instan: sebuah demonstrasi bahwa ketidakpatuhan terhadap sistem lama akan dibayar mahal dengan kelumpuhan aktivitas ekonomi warga.

Gertakan Balik para Oligarki ?

Dalam panggung politik, tidak ada hal yang terjadi tanpa sengaja. Pidato Presiden Prabowo adalah pernyataan perang terbuka terhadap oligarki nakal. Jika pemadaman ini adalah sabotase jaringan, maka ini adalah bentuk counter-attack atau gertakan balik yang sangat taktis. Dengan memadamkan Sumatra—lumbung batu bara dan sawit—aktor di balik layar seolah ingin menunjukkan taringnya, menguji seberapa kuat nyali dan komitmen pemerintahan baru dalam menegakkan aturan main yang bersih.

Kerentanan Infrastruktur Vital

Dari kacamata ketahanan nasional, peristiwa ini menjadi alarm keras. Jaringan listrik adalah infrastruktur vital nasional (critical infrastructure). Jika sistem sepenting ini begitu mudah lumpuh—baik karena kelalaian internal maupun infiltrasi eksternal—artinya ada celah besar dalam aspek keamanan energi kita. Ketahanan nasional tidak hanya bicara soal moncong senjata, tetapi juga bagaimana mengamankan saklar lampu dan pasokan daya dari sabotase tangan-tangan tak terlihat yang ingin mendestabilisasi negara.

Dialektika Gelap dan Terang

Secara filosofis, situasi ini mencerminkan hukum dialektika klasik. Setiap ada gerakan menuju perubahan yang terang (tata kelola yang jujur), akan selalu muncul resistensi dari kegelapan (korupsi dan keserakahan). Kegelapan tidak pernah menyerah begitu saja ketika wilayahnya direbut. Pemadaman listrik di Sumatra adalah simbol visual yang sempurna dari benturan eksistensial ini: perjuangan kolektif bangsa untuk keluar dari “kegelapan struktural” menuju transparansi.

Ujian Mental dan Solidaritas

Dari sisi spiritual, musibah atau ujian ini adalah momentum pembersihan dan pengujian niat. Pembersihan sebuah bangsa dari praktik korup yang mengakar puluhan tahun selalu membutuhkan pengorbanan dan ketabahan. Kegelapan fisik sesaat di Sumatra justru menyalakan api kesadaran dan solidaritas spiritual di hati rakyat. Ini menjadi pengingat bahwa perjuangan menegakkan keadilan sosial demi kemakmuran rakyat banyak adalah jalan sunyi yang penuh rintangan, namun wajib dimenangkan.

Catatan Penutup: Rakyat Berdiri Bersama Presiden

Apapun penyebab teknis di balik layarnya, satu hal yang pasti: upaya pelemahan terhadap kebijakan yang membela aset negara tidak akan membuat rakyat mundur.

Jika blackout ini dirancang untuk memicu kemarahan rakyat kepada pemerintah, maka strategi itu keliru besar. Rakyat Sumatra dan seluruh Indonesia justru makin solid berdiri di belakang Presiden Prabowo Subianto untuk menyikat habis para manipulator SDA.

Senter boleh dinyalakan, lilin boleh dibakar, tetapi semangat untuk mendukung tata kelola SDA yang bersih dan dan berdaulat lewat Danantara tidak akan bisa dipadamkan.***

Editor : M. Nabil

(Aab)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Distan Sukabumi Perkuat Swasembada Pangan di Ciemas

Bisnisnews.net - Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi menegaskan Kecamatan Ciemas...

Bupati Sukabumi: Ciemas Penopang Swasembada Pangan

Bisnisnews.net - Bupati Sukabumi H. Asep Japar menegaskan Kecamatan...

Hari Kebangkitan Nasional, PLN Hadirkan Promo Tambah Daya Diskon 50 Persen Lewat Program “MeiLaju Lebih Terang”

Bisnisnews.net – Dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional, PT...

Gaji Ke-13 Pensiunan dan ASN Cair Mulai 2 Juni 2026, Taspen Pastikan Penyaluran Tepat Waktu

Bisnisnews.net – PT Taspen (Persero) memastikan penyaluran gaji ke-13...